SuaraPantura.com - Ada saja nama nama kuliner di Indonesia, kali ini kita akan bahas kuliner dengan nama gokil yakni Ketupat Jembut dari Jawa Tengah.
Kupat jembut adalah makanan khas Jawa Tengah berupa ketupat yang sudah diisi sayuran berupa tauge atau kecambah di dalamnya.
Makanan tersebut biasanya dinikmati dengan opor ayam atau makanan berkuah lain. Kupat jembut sering kali dijual di perayaan Syawalan di Semarang.
Perayaan syawalan ini dikenal juga dengan nama lebaran ketupat (kupat dalam bahasa Jawa). Yang unik, di Semarang terdapat sebuah tradisi syawalan yang disebut tradisi kupat jembut.
kupat jembut merupakan ketupat yang dimasak dengan aneka sayuran sehingga permukaannya tidak halus seperti ketupat atau kupat pada umumnya.
Kupat ini dibuat dari bungkus daun kelapa muda (janur) atau di Semarang itu dari daun bambu muda.
Ketupat tersebut bentuknya segi empat lalu dibelah diagonal tapi enggak putus. Lalu di dalamnya disisipkan toge dimasukkan ke situ jadi tampilannya seperti organ kelamin perempuan.
Awalnya, isian ketupat hanyalah toge karena saat awal tradisi ini dimulai warga hanya punya toge untuk jadi isian ketupat. Dalam perkembangannya tambahan kubis (kol) dan sambal kelapa pun ditambahkan.
Menurut salah satu literasi, Tradisi ketupat jembut ini sudah ada sejak tahun 1950-an. Awalnya pencetusnya adalah Nyai Sutimah dan Kiai Samin yang merupakan warga asli Demak.
Mereka adalah satu dari lima keluarga pertama yang menduduki kampung Jaten Cilik. Mereka datang ke wilayah tersebut untuk mengungsi karena serangan sekutu.
Untuk menghadirkan perayaan yang sederhana, mereka pun membuat ketupat yang sedikit berbeda dengan bahan yang ada. Supaya warga tertarik, Haji Samin berulang kali memukul wajan saat azan Subuh.
Namun ada juga versi lain yang mengungkapkan bahwa di Kendal, kupat jembut hanya dibuat pada saat hari raya Idulfitri oleh keluarga yang salah satu anggota keluarganya sudah meninggal dunia, baik orangtua atau anaknya.
Usai azan subuh berkumandang, petasan mulai dinyalakan. Anak-anak kampung Jaten Cilik pun mulai keluar rumah untuk berebut kupat jembut ini.
Dalam perkembangannya, untuk THR anak-anak, beberapa orang juga kerap menyelipkan uang ke dalam ketupat jembut ini. Ketupat ini pun dibagikan ke anak-anak dan mereka akan berebut untuk mendapatkannya.
Tradisi menyisipkan uang dalam kupat jembut ini dimulai sejak tahun 2000. Bukan cuma untuk memeriahkan perayaan, tapi pemberian uang ini juga dimaknai sebagai sedekah dan ungkapan syukur atas rahmat Tuhan sekaligus untuk pelengkap ibadah puasa.
***