Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Mental Illness dan Bahayanya Self Diagnose, Kamu Salah Satunya?

Novia Fuji Astuti•
Gaya Hidup

SuaraPantura.com - Marak kasus Mental illness ditemukan pada cuitan sosial media. Perlu diketahui mental illness atau bisa juga disebut gangguan kesehatan mental, adalah istilah yang mengacu pada berbagai kondisi yang mempengaruhi pikiran, perasaan, suasana hati atau perilaku seseorang.

Mental illness merupakan Gangguan kejiwaan yang memiliki banyak jenis dan faktor penyebab. Setiap jenisnya akan mendapatkan penanganan dan pengobatan yang berbeda-beda.

Meski termasuk gangguan yang perlu diwaspadai, banyak masyarakat jaman sekarang yang bertindak menjadi dokter bagi diri sendiri. Hal itu dilakukan dengan menerka dan membuat kesimpulan atas segala yang dirasakan dirinya hanya dengan berbekal pengetahuan pribadi melalui hasil membaca dan mencari jawaban lewat internet, itulah self diagnose.

Padahal untuk memperoleh diagnosa yang pasti dan benar, diperlukan pemeriksaan lanjutan oleh tim medis profesional yakni dokter spesialis kesehatan jiwa.

Polemik Ijazah Jokowi-Gibran Memanas, Peneliti BRIN Ingatkan Publik Jangan Lupakan Karhutla
Baca Juga · Gaya Hidup
Polemik Ijazah Jokowi-Gibran Memanas, Peneliti BRIN Ingatkan Publik Jangan Lupakan Karhutla

Gangguan kesehatan jiwa seringkali diabaikan gejalanya, namun lebih fatalnya lagi adalah keliru penanganan akibat self diagnose.

Berbahayakah self diagnose dalam penanganan kasus kejiwaan?

Self diagnose dalam konteks kesehatan jiwa, akhir-akhir ini kerap dijumpai dicuitan media sosial. Para remaja yang mengunggah cerita berbentuk video di media sosial berisi pengalaman pribadinya sebagai penyintas ataupun penderita suatu penyakit, yang direspon oleh banyak pengguna lain.

Suarakan Karhutla, Viewers Tasya Farasya Anjlok hingga Akun Ustaz Adi Hidayat Kena Banned
Baca Juga · Gaya Hidup
Suarakan Karhutla, Viewers Tasya Farasya Anjlok hingga Akun Ustaz Adi Hidayat Kena Banned

Yang perlu digarisbawahi ialah mayoritas dari respon tersebut berisi ungkapan bahwa mereka terdiagnosa gangguan jiwa serupa / sejenisnya tetapi hanya berdasar dari pencarian di internet maupun karena merasa memiliki persamaan gejala dengan pemilik konten.

Sisi positifnya, hal ini memudahkan pengguna untuk lebih mawas diri terhadap kondisi kesehatannya dengan mencari informasi menyeluruh. Namun, Sisi negatifnya adalah akibat masih banyak masyarakat yang belum bisa memanfaatkan teknologi dengan bijak, berbekal informasi dari internet seringkali digunakan sebagai satu-satunya patokan untuk mendiagnosa diri sendiri tanpa melakukan pemeriksaan lanjutan ke fasilitas kesehatan.

Sehingga sebagaimana yang dikatakan Salah seorang psikiater, dr. Jiemi Ardian Sp.KJ bahwa tindakan self diagnose membuat seseorang memberatkan yang ringan ataupun meringankan yang berat, kedua hal tersebut hanya akan melukai penderita gangguan jiwa lain yang benar terdiagnosa maupun bagi pelaku self diagnose itu sendiri.

Top Up DANA Rp10 Juta dari BCA Tak Masuk, Uang Sudah Terpotong: Nasabah Menunggu Kejelasan
Baca Juga · Gaya Hidup
Top Up DANA Rp10 Juta dari BCA Tak Masuk, Uang Sudah Terpotong: Nasabah Menunggu Kejelasan

Seseorang yang melakukan self diagnose akan merasakan ketakutan dan panik dengan kondisinya ataupun sebaliknya, ia akan menghindar, menyangkal, dan akhirnya menyepelekan.

Dengan demikian, melakukan self diagnose sama saja seperti membuka jalan untuk masuknya penyakit baru.
***

Tags:
#pikiran#gangguan kesehatan mental#mental illness
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…