SuaraPantura.com - Bagi para penikmat kuliner khas Tegal menjadi kurang afdol jika belum mampir berkunjung mencicipi kuliner legendaris Kupat Pak Kidi.
Kuliner yang satu ini menjadi primadona meskipun letaknya jauh dari pusat Kota.
Sangkin legendaris dan spesialnya kuliner ini, mantan Bupati Tegal, Agus Riyanto (AR) bahkan secara khusus pernah menuliskan keistimewaan kupat Pak Kidi ini.
" Jika Wa Kidi nyalon Bupati, ndeyan tah bisa dadi dua kali, bahkan ora perlu kampanye.
Alasannya begini:
Rumah Wa Kidi, tiap pagi hingga jelang siang, tetap saja diburu pembeli sampai rela antri meskipun letaknya ndempes dan bahkan harus masuk gang, untuk sekedar sepiring kupatnya.
Ya, awalnya dulu Wa Kidi mikul jual kupat gulai ider keliling desa Margasari. Lama-lama pelanggan justru yang datang ke rumahnya. Kupat Wa Kidi yang sudah dikenal enak, tak butuh ider lagi.
Kata Bung Karno, "bunga mawar tidak mempropagandakan harum semerbaknya, dengan sendirinya harum semerbaknya itu tersebar di sekelilingnya.."
Bukan tanpa alasan AR secara khusus menaruh perhatian pada kuliner ini.
Selain karena selalu ramai dan diburu pecinta kuliner, Kupat Pak Kidi atau Wa Kidi ini seolah mematri kenangan rasa tersendiri bagi para penikmatnya.
Meskipun sang pemilik sudah meninggal sejak 1998, namun warisan rasanya masih tetap terjaga sejak kuliner ini dirilis pertama kali pada tahun 1970.
Awalnya kuliner ini hadir secara alamiah, Pak Kidi menjajakan kupat ini keliling kampung menggunakan pikulan.
Baru setelah tahun 1985 Pak Kidi mulai mapan menetap di rumahnya sendiri.
Yang membedakan kuliner ini dari yang lain adalah sajian kuahnya yang menggunakan gulai kambing dan balutan kikil kambing yang khas, tentunya dengan resep luhur keluarga turun temurun yang membuat rasanya senantiasa terjaga.
Selain kikil kambing, pelanggan juga bisa menambahkan toping dengkil, kepala, otak, bahkan lidah kambing nan spesial.
Bagaimana?
Sat set yuh wa!
***