Pesona Tempat Wisata Pari Petarukan Pemalang, Kuliner Tengah Sawah yang menyajikan Nuansa Jawa
Desky Danuaji•
Gaya Hidup
SuaraPantura.com - Bagi kalian yang suka piknik ke tempat yang nyaman sekaligus Instagramable, Tempat Wisata Pari Petarukan Pemalang ini cocok untuk dipilih sebagai tempat tujuan.
Tempat Wisata Pari Petarukan Pemalang ini sangat indah dan menyajikan pemandangan alam dan kuliner yang unik.
Kalian bisa piknik ke Tempat Wisata Pari Petarukan Pemalang ini dengan harga yang ekonomis banget.
Sejarah Tempat Wisata Pari Petarukan Pemalang
Wisata pari berada di Desa Serang, Petarukan Kabupaten Pemalang.
Serang adalah nama seorang leluhur desa, dengan nama asli Raden Ayu Samar Sereb Silo Serang dari Dukuh Njimat Kesesirejo (Bodeh).
Beliau adalah saudara perempuan dari Mbah Joko Ripo, Mbah Bahurekso dan Mbah Suro. Cucu dari Mbah Cempaluk dan keponakan dari Sunan Kalijaga.
Wisata dengan Nuansa pedesaan Jawa — Wisatapari.pemalang/ig
Ketika Belanda mulai masuk ke Jawa Mbah Bahurekso, Mbah Samar, dan Mbah Suro pergi ke Keraton Surakarta untuk menemui Mbah Joko. Akan tetapi sesampainya di sana ternyata keraton sudah dikuasai Belanda, "Samar..Suro kalian kembalilah ke Padukuhan Njimat Kesesirejo menemui Mbah Cempaluk dan Sunan Kalijaga untuk mengabarkan ini,saya dan Mbah Joko menetap di sini untuk sementara waktu." kata Mbah Bahurekso.
Sesampainya mereka di Padukuhan Njimat,Mbah Cempaluk dan Sunan Kalijaga memberi wasiat kepada Mbah Samar dan Mbah Suro. "Samar..Suro kalian harus mencari tanah merdeka,Samar kamu pergilah ke Padukuhan Sigrumung Petarukan dan mengganti namamu menjadi Raden Ayu Samar Sereb Silo SERANG, kamu Suro pergilah kamu ke Padukuhan Bonagung Tegal Arum dan ganti namamu menjadi Mbah Suro Bonagung".
Sejak saat itu Mbah Serang menetap dan mempertahankan daerah tersebut dari gangguan bangsa kulit putih,yang sekarang dikenal dengan nama Desa Serang.
Moci sambil diskusi di Wisatapari petarukan pemalang — Wisatapari.pemalang/ig
Mbah Serang juga mempunyai pusaka yg terkenal yaitu Kenthongan,dimana setiap kenthongan tersebut berbunyi artinya akan datang sebuah musibah. Kenthongan itu sendiri merupakan pemberian dari Mbah Bahurekso yang terbuat dari pucuk Pohon Jatisari, kayu sisa dari pembuatan Perahu Kolodito,selain kenthongan ia juga punya pusaka peninggalan orang tuanya yaitu seekor Burung Perkutut, Bende,Poci, dan Patean.