Suarapantura.com - Uji coba penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di Kota Solo, Jawa Tengah, mendapat respons positif dari siswa. Selama dua pekan, 6-17 Oktober 2026, makanan disajikan dalam keadaan hangat di sekolah dan siswa mengambil sendiri porsinya.
Uji coba di Solo melibatkan 26 sekolah yang dilayani sembilan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Makanan dibawa dalam wadah pemanas ke sekolah, lalu disajikan agar siswa dapat mengambil nasi, lauk, sayur, dan buah sesuai porsi yang disediakan.
Sejumlah siswa dan pihak sekolah menilai makanan pada sistem prasmanan terasa lebih hangat dan segar dibandingkan sistem ompreng, ketika makanan sudah dikemas per porsi sejak dari dapur. Seorang siswa SDN Sibela Barat 1 menyebut makanan pada sistem prasmanan terasa lebih enak.
Wali Kota Solo Respati Ardi bersama Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana meninjau pelaksanaan uji coba di SDN Sibela Barat 1 pada Jumat (16/10/2026). Wali kota menyampaikan skema tersebut akan dievaluasi, dan berpotensi diperluas apabila hasilnya dinilai baik.
Pola serupa juga diujicobakan di Kabupaten Boyolali. SMP Muhammadiyah 1 PK Boyolali menjadi salah satu lokasi percontohan yang dilayani SPPG Siswodipuran 3 pada 5-16 Oktober 2026. Uji coba di sekolah tersebut baru melibatkan dua kelas, yakni 20 siswa kelas VII ICT dan 25 siswa kelas VIII B dari total 114 siswa.
Dalam sistem prasmanan, siswa dilibatkan langsung dalam proses penyajian. Sebagian siswa membantu menurunkan makanan dari kendaraan distribusi dan membawanya ke kelas, sementara siswa lain mengenakan alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, celemek, dan penutup kepala untuk membantu menyiapkan serta membagikan makanan.
Salah satu siswa yang bertugas membagikan makanan, Attaya Rafi, mengaku lebih senang dengan sistem prasmanan karena makanan terasa lebih hangat dan enak. Ia menyebut makanan pada sistem prasmanan bisa habis, bahkan kadang ada siswa yang menambah karena masakannya segar. Waktu makan dibatasi sekitar 30 menit.
Kepala SMP Muhammadiyah 1 PK Boyolali, Desti Trisnaningsih, menjelaskan keunggulan utama prasmanan adalah kondisi makanan yang selalu hangat. Menurutnya, makanan yang disantap dalam keadaan hangat dan segar lebih menggugah selera siswa sehingga mereka makan dengan lahap, dibandingkan makanan ompreng yang bisa dingin. Respons siswa dinilai positif, bahkan beberapa siswa mengambil tambahan makanan.
Ahli gizi SPPG Siswodipuran 3, Donna Olivia, mengatakan proses memasak diatur agar makanan tiba di sekolah dalam keadaan hangat, sekitar 60 derajat Celsius. Selama uji coba, setiap kelas didampingi satu petugas pemorsian yang mengawasi pembagian makanan dan memberi tahu takaran per orang.
Salah satu tujuan penerapan sistem prasmanan adalah mengurangi sisa makanan. Siswa diharapkan mengambil makanan secukupnya dan diperbolehkan menambah porsi selama persediaan masih ada, dengan syarat makanan yang diambil harus dihabiskan. Hasil evaluasi uji coba di Solo dan daerah lain akan menjadi bahan pertimbangan BGN untuk menentukan perluasan sistem prasmanan ke lebih banyak sekolah.
Sumber: Kompas.com, Solopos/Espos.id