Suarapantura.com - Seorang anak lelaki berusia enam tahun yang duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar di Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, diduga menjadi korban penganiayaan oleh ibu tirinya. Kasus ini terungkap setelah tangisan anak tersebut terdengar hampir setiap hari dari sebuah rumah kos dan dilaporkan warga ke pihak kepolisian.
Bhabinkamtibmas setempat, Aiptu M. Sobirin, mengatakan menerima laporan dari warga pada Sabtu (17/10/2026) sekitar pukul 14.00 melalui pesan singkat dan telepon. Usai menerima laporan, ia segera berkoordinasi dengan instansi terkait dan mendatangi kos tempat keluarga bocah itu tinggal.
Saat diperiksa, petugas menemukan sejumlah luka di tubuh korban. "Sudah kami lihat ada beberapa luka, ada yang lama, ada yang baru. Ada sedikit memar, mungkin jiwitan-jiwitan (cubitan)," ujar Sobirin, dikutip detikJateng, Senin (19/10/2026).
Untuk menyelamatkan korban, petugas menyusun siasat agar pintu kos dapat dibuka dan tidak kembali ditutup oleh orang tuanya. Setelah berhasil masuk dan mengobrol, bocah itu kemudian dikeluarkan dari kos dalam kondisi yang memprihatinkan.
Yang menyedihkan, ketika ditanya petugas, bocah tersebut mengaku belum makan apa pun sejak pagi hingga sore. Ia bercerita ibu tirinya tidak memasak lantaran tidak memiliki kompor di kos tersebut. Sobirin pun membelikan sebungkus nasi berlauk ayam goreng yang kemudian dimakan anak itu dengan lahap.
Setelah identitas diperiksa, keluarga tersebut diketahui bukan warga Kota Semarang. Usai berembuk dengan pendampingan petugas, bocah lelaki itu akhirnya diamankan oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah untuk dirawat dan ditengok orang tuanya sewaktu-waktu.
Sementara itu, dugaan awal menyebutkan sang ibu tiri menganiaya anak tersebut karena faktor ekonomi. Sobirin menduga sang ibu mengalami depresi hingga melampiaskan emosinya kepada si anak. Ia menemukan banyak lebam di tubuh korban yang diduga akibat cubitan, dan tidak menemukan luka bekas benda tumpul.
Berdasarkan keterangan warga, tangisan bocah itu terdengar dua hingga tiga hari sebelum laporan diterima petugas. Namun, adanya luka lama di tubuhnya mengindikasikan dugaan penganiayaan sudah berlangsung cukup lama.
Kepala Dinas Pemberdayaan, Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang, Pranyoto, mengatakan penanganan korban dan terduga pelaku dilakukan bersama pemerintah provinsi karena keluarga tersebut bukan warga Semarang. Terduga pelaku kini diamankan di provinsi, sementara korban mendapat pendampingan psikologi dari DP3A.
Diketahui, ayah kandung korban bekerja sebagai pegawai pembuat martabak di Banyumanik dan keluarga tersebut kerap berpindah-pindah tempat kos. Polisi masih mendalami kasus ini.
Sumber: detikJateng, Jawa Pos Radar Semarang, JPNN.com