Suarapantura.com - Seekor macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) berhasil terekam kamera jebak yang dipasang di kawasan Cagar Alam Nusakambangan Barat, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Rekaman tersebut didapat dari kegiatan pemantauan singkat yang dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah pada 12 hingga 15 Oktober 2026. Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam (RKSDA) Wilayah Cilacap, Wahyono Restanto, mengatakan satu individu satwa dilindungi itu kemungkinan melintas di depan kamera pada Selasa (13/10) malam hingga Rabu (14/10) dini hari.
Menurut Wahyono, rekaman itu belum bisa dijadikan tolok ukur untuk memastikan total populasi macan tutul di seluruh Pulau Nusakambangan karena pemantauannya hanya berlangsung sebentar.
Merujuk pada data penelitian terakhir, populasi macan tutul Jawa di Pulau Nusakambangan diperkirakan mencapai 20 individu. Secara rinci, empat ekor di antaranya beberapa kali terpantau di Cagar Alam Nusakambangan Barat, sekitar enam ekor di Cagar Alam Nusakambangan Timur, dan sisanya tersebar di kawasan hutan di luar cagar alam.
Selain macan tutul, kamera jebak juga berhasil mendokumentasikan berbagai fauna lain seperti kancil, kijang, landak, dan biawak. Pada pemantauan sebelumnya, sejumlah satwa dilindungi yang relatif langka juga sempat terekam, di antaranya binturong (Arctictis binturong), kucing hutan (Prionailurus bengalensis), dan elang jawa (Nisaetus bartelsi).
Wahyono menilai keberadaan beragam satwa tersebut menunjukkan pentingnya menjaga kelestarian habitat di kawasan konservasi Nusakambangan. Ia juga tidak menampik bahwa maraknya aktivitas proyek pembangunan di Pulau Nusakambangan berpotensi memengaruhi kondisi habitat dan pergerakan satwa liar.
Macan tutul Jawa merupakan satu-satunya kucing besar yang tersisa di Pulau Jawa dan berstatus satwa yang dilindungi. Pulau Nusakambangan yang selama ini dikenal sebagai lokasi sejumlah lembaga pemasyarakatan ternyata menyimpan kawasan hutan yang menjadi habitat penting bagi predator puncak tersebut.
Pengawasan ketat di pulau itu membuat tekanan terhadap habitat satwa liar relatif lebih rendah dibandingkan kawasan lain. Kendati demikian, BKSDA meminta masyarakat dan para pekerja proyek agar tidak mengganggu satwa serta menjaga kelestarian kawasan konservasi.
Sumber: Metro TV News dan ANTARA.