Suarapantura.com - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak fenomena El Nino yang mengancam produksi pertanian dan pasokan pangan di wilayahnya. Berbagai intervensi dilakukan dari sektor hulu hingga hilir agar risiko gagal panen serta gangguan ketersediaan bahan pokok bisa ditekan.
Upaya terbaru diwujudkan melalui aksi peduli dan Gerakan Pangan Murah yang dipusatkan di Kantor Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Jawa Tengah, Kompleks Tarubudaya, Ungaran, Kabupaten Semarang, pada Senin (12/10/2026). Kegiatan yang digelar bersama Bank Indonesia, Perum Bulog, petani, dan pihak terkait itu menyasar pedagang warung, pelaku usaha katering, petani, serta masyarakat di Kabupaten Semarang maupun Kota Semarang.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan pengendalian harga dan pasokan pangan tidak cukup hanya dengan intervensi di tingkat konsumen. Menurut dia, penanganan harus dimulai dari proses produksi di hulu sampai distribusi ke pasar. Ia menyebut kolaborasi lintas lembaga dalam kegiatan ini diharapkan bisa menjadi contoh untuk diterapkan di daerah lain di Jawa Tengah.
"Karena El Nino inilah maka kita harus mempunyai ide kreatif dalam pengendalian bahan pokok penting dari hulu hingga hilir," kata Luthfi.
Intervensi tersebut dilakukan karena sejumlah bahan pokok terpantau mengalami kenaikan harga. Cabai merah di pasaran dilaporkan sempat menyentuh kisaran Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram, sementara harga beras juga mengalami kenaikan. Selain menekan inflasi, kegiatan ini dirancang untuk memitigasi dampak kekeringan akibat El Nino.
Dari sisi hulu, Pemprov Jateng menyalurkan bantuan beras, sarana perpipaan untuk mendukung pengairan, serta rumah burung hantu untuk membantu pengendalian hama di lahan pertanian. Pola tanam petani juga disesuaikan dengan program Distannak agar produksi tetap terjaga saat musim kering.
Strategi hulu-hilir ini bukan hal baru. Sebelumnya pemerintah provinsi memperbaiki 108 daerah irigasi, menyediakan 5.400 pompa, serta menangani banjir di 60 titik. Pada sisi hilir, penguatan rantai pasok dilakukan lewat Gerakan Pangan Murah yang telah digelar 1.053 kali, penguatan 368 kios pangan, serta peran BUMD sebagai pembeli atau off taker komoditas strategis.
Dari sisi produksi, data periode Januari hingga Oktober 2026 menunjukkan produksi padi Jawa Tengah diperkirakan mencapai 8,4 juta ton gabah kering giling atau setara sekitar 4,9 juta ton beras. Angka ini menjadi modal penting untuk menjaga ketersediaan pangan di tengah tekanan musim kemarau.
Sementara itu, kekhawatiran terhadap dampak El Nino bukan tanpa dasar. BMKG memperkirakan El Nino 2026 berpotensi bertahan setidaknya hingga awal kuartal I-2027, dengan dampak paling signifikan terhadap Indonesia diperkirakan terjadi selama periode kemarau hingga sekitar pertengahan Oktober 2026. Berkurangnya pasokan air berpotensi mengganggu jadwal tanam dan meningkatkan risiko puso di sejumlah daerah, termasuk Jawa Tengah.
Kementerian Pertanian bahkan mempercepat distribusi pompa air ke daerah-daerah rawan kekeringan. Di Grobogan, Jawa Tengah, misalnya, Kementan pada September menyalurkan 1.000 unit pompa untuk menjaga tanaman tetap memperoleh pasokan air.
Dampak kekeringan juga sudah terasa di sejumlah wilayah. Kepala Distannak Provinsi Jawa Tengah Defrancisco Dasilva Tavares atau Frans mengungkapkan pihaknya telah menerima laporan gagal panen padi di wilayah Brebes dan Rembang akibat kekeringan dengan total luas lahan mencapai 71,48 hektare. Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah tercatat menyalurkan 75.463.000 liter air bersih ke 33 kabupaten/kota sejak 5 Juni hingga 28 September 2026.
Sebelumnya, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jawa Tengah dinobatkan sebagai TPID Provinsi Berkinerja Terbaik 2026 setelah inflasi Jawa Tengah pada Agustus 2026 terkendali di level 3,08 persen secara tahunan, lebih rendah dari rata-rata nasional sebesar 3,19 persen.
Sumber: Mercuswara, Investor Trust, Proaktif Media