Suarapantura.com - Sri Sultan Hamengku Buwono X berkunjung ke Kabupaten Batang, Jawa Tengah, untuk menelusuri kembali jejak sejarah Kesultanan Mataram Islam di kawasan pesisir utara Jawa. Kunjungan tersebut dikemas dalam agenda Muhibah Budaya yang mempertemukan Pemerintah Kabupaten Batang dengan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kegiatan yang dihelat di Aula Kantor Bupati Batang itu diinisiasi Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY sebagai agenda tahunan. Program ini bertujuan merajut kembali simpul keterkaitan historis antara Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan wilayah Kabupaten Batang pada era Mataram Islam.
Melalui kegiatan edukasi budaya tersebut, kedua pemerintah daerah berupaya menumbuhkan kesadaran kolektif generasi muda agar lebih mengenal serta peduli terhadap pelestarian warisan leluhur. Sejumlah pelajar terlihat antusias mengikuti pameran sejarah yang digelar dalam rangkaian acara tersebut.
Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya Dinas Kebudayaan DIY, Dwi Agung Hernanto, mengatakan Muhibah Budaya bertujuan menjalin kolaborasi dan mempererat kembali keterkaitan sejarah serta budaya Mataraman di wilayah yang dulunya berada di bawah pengaruh Mataram Islam.
Hubungan kekerabatan historis antara Sultan Agung beserta keturunannya hingga era Kasultanan Yogyakarta, kata dia, memiliki andil besar dalam membentuk identitas budaya lokal di Batang.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang, Tri Adi Susanto, menekankan pentingnya sinergi nyata dalam menjaga peninggalan arkeologis mulai dari era Mataram Kuno hingga Mataram Islam.
Menurut dia, kemajuan pembangunan modern di Kabupaten Batang harus tetap berjalan selaras dengan upaya perlindungan cagar budaya agar jati diri lokal tidak tergerus zaman.
Dalam kunjungan tersebut, Sri Sultan HB X yang juga menjabat Gubernur DIY dilaporkan mendorong Pemkab Batang memperkuat riset sejarah, termasuk menelusuri misteri sosok Ratu Batang melalui manuskrip yang tersimpan di Keraton Yogyakarta. Dialog budaya antara Batang dan DIY pun diharapkan menjadi ruang awal untuk mengkaji ulang keterkaitan peradaban masa lalu kedua wilayah.
Dwi Agung menambahkan, hubungan historis tersebut tidak hanya tercatat dalam manuskrip keraton, tetapi juga tercermin dalam tradisi dan kesenian masyarakat Batang hingga kini. Karena itu, dia berharap kolaborasi Batang-DIY mampu melahirkan penelitian bersama yang memperkaya khazanah sejarah Jawa.
Sumber: Radar Pekalongan, RRI, ANTARA.