Suarapantura.com - Krisis air bersih akibat kemarau panjang di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kebumen mencatat hingga awal Oktober 2026, sebanyak 67 desa di 17 kecamatan mengalami kesulitan air bersih dan bergantung pada bantuan pemerintah.
Data BPBD menyebutkan kekeringan berdampak terhadap 50.182 kepala keluarga (KK) atau 160.784 jiwa. Jumlah itu meningkat tajam dibandingkan akhir Agustus 2026, ketika krisis baru melanda 21 desa di 10 kecamatan dengan 10.043 KK atau sekitar 30.057 jiwa terdampak. Dalam waktu sekitar satu bulan lebih, jumlah desa yang mengalami krisis air bersih naik lebih dari tiga kali lipat.
Hingga 8 Oktober 2026, Pemkab Kebumen telah menyalurkan 740 tangki air bersih ke wilayah terdampak dengan total 3.358.000 liter. Kepala Pelaksana BPBD Kebumen, Udy Cahyono, menyebut bantuan bersumber dari APBD Kebumen sebesar 2.146.000 liter serta bantuan CSR swasta 1.212.000 liter.
"Permintaan bantuan air bersih dari masyarakat terus meningkat karena musim kemarau masih berlangsung dan sejumlah wilayah semakin kesulitan mendapatkan pasokan air," ujarnya.
Sebaran wilayah menunjukkan Kecamatan Karanggayam menjadi daerah dengan desa terdampak terbanyak, yakni 11 desa. Kecamatan Sempor mencatat tujuh desa, sedangkan Buayan, Karangsambung, dan Alian masing-masing enam desa. Pejagoan dan Sruweng masing-masing lima desa, sementara Adimulyo, Kebumen, Prembun, Kutowinangun, dan Sadang masing-masing satu desa.
Di tengah krisis yang berlangsung sekitar 105 hari, sejumlah warga terpaksa berjalan kaki hingga tiga kilometer menuju sungai untuk mengambil air yang kondisinya kurang bersih. Misliyah, warga Desa Kalijering, Kecamatan Padureso, mengaku sebelum bantuan tangki datang, ia harus berjalan sejauh itu untuk mendapatkan air.
"Bantuan air bersih ini sangat membantu keluarga kami. Pasokan 13 galon air ini cukup untuk memenuhi kebutuhan memasak dan minum selama dua hingga tiga hari ke depan," tuturnya.
Berbagai pihak turut membantu. Yayasan Jaya Sekti Mandiri menyalurkan 17.000 liter air bersih selama dua pekan terakhir ke sejumlah desa, di antaranya Bojongsari di Kecamatan Alian, Tirtomoyo di Kecamatan Poncowarno, dan Kalijering di Kecamatan Padureso. Pengurus yayasan, Yusuf Cahyono, menyatakan pihaknya akan melanjutkan bantuan selama masyarakat masih membutuhkan.
BPBD Kebumen mengingatkan warga yang membutuhkan bantuan air bersih agar mengajukan permohonan melalui pemerintah desa yang diketahui pihak kecamatan, kemudian diteruskan ke BPBD untuk diproses sesuai standar operasional prosedur.
Pada Kamis (22/10/2026), Pemkab Kebumen kembali menyalurkan 5.000 liter air bersih untuk 30 keluarga di Dukuh Kalipranji, Desa Giritirto, Kecamatan Karanggayam. Warga di sana telah kesulitan mendapatkan air bersih sejak Agustus 2026 dan harus berjalan hampir tiga kilometer ke daerah pegunungan untuk mencari air. Setiap keluarga menerima 20-30 liter yang dibagikan sekitar dua minggu sekali atau disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
Bupati Kebumen Lilis Nuryani mengimbau warga menghemat penggunaan air selama musim kemarau dan tidak membuang puntung rokok sembarangan untuk mengurangi risiko kebakaran lahan. Pemkab juga menyiapkan solusi jangka panjang berupa perluasan program penyediaan air minum berbasis masyarakat (PAMSIMAS) dan pipanisasi yang dinilai efektif mengurangi jumlah desa rawan kekeringan, serta pembangunan embung dan waduk penampung air hujan.
Kemarau yang berkepanjangan membuat kebutuhan air bersih masyarakat terus membesar. Pemerintah daerah diharapkan terus menambah pasokan bantuan hingga musim hujan tiba, sementara warga diimbau menghemat penggunaan air.
Sumber: Banyumas Ekspres, Berita Kebumen, detikJateng