Suarapantura.com - Kawasan Alun-alun Kabupaten Pati, Jawa Tengah, belakangan ramai didatangi warga. Bunga tabebuya yang bermekaran dengan warna merah muda, kuning, dan putih membuat pusat kota itu tampak lebih semarak dan menjadi latar swafoto dadakan bagi para pengunjung.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, mengaku sempat meragukan foto-foto bunga yang beredar di media sosial. Ia mengira gambar tersebut merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI). Namun setelah mengecek langsung ke lokasi pada Sabtu, 24 Oktober 2026, ia memastikan bunga itu benar-benar mekar dan tanamannya tumbuh subur.
Menurut Chandra, kawasan alun-alun kini menjadi tujuan kunjungan dadakan masyarakat. Banyak warga datang untuk bersantai, duduk menikmati suasana yang sejuk, dan mengabadikan keindahan bunga bersama keluarga. Suasananya yang berwarna-warni membuat sejumlah pengunjung menyebut pemandangan itu menyerupai musim bunga di Jepang, meski tabebuya merupakan tanaman yang berbeda dari sakura.
Berdasarkan pemberitaan lokal, sekitar 20 pohon tabebuya di kawasan Alun-alun Pati sedang berbunga pada akhir Oktober 2026. Warga yang datang pun beragam, mulai dari yang sekadar melintas hingga yang sengaja datang setelah melihat unggahan di media sosial. Salah satunya Mila, warga Winong Kidul, yang mengaku sengaja datang karena penasaran dengan ramainya unggahan tabebuya dan tertarik menanamnya di halaman rumah bila perawatannya mudah.
Momentum mekarnya tabebuya ini dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati untuk mendorong penghijauan. Pemkab menyiapkan sekitar 250 bibit tabebuya gratis bagi masyarakat. Selain itu, pemerintah daerah juga berencana mendatangkan tambahan sekitar 1.000 bibit melalui bantuan Djarum Foundation. Bibit tersebut diharapkan ditanam warga di lingkungan rumah sehingga dapat memperindah permukiman sekaligus menambah ruang hijau.
Meski demikian, mekarnya tabebuya merupakan fenomena musiman yang tidak berlangsung sepanjang tahun. Warga yang ingin menikmati pemandangan terbaik disarankan datang pada pagi atau sore hari, membawa air minum, dan menyesuaikan diri dengan kondisi cuaca. Pengunjung juga diimbau menjaga kebersihan, tidak memetik bunga atau mematahkan ranting, serta tidak berhenti sembarangan di badan jalan hanya untuk berfoto demi keselamatan bersama.
Dengan pengelolaan yang baik, Alun-alun Pati berpotensi menjadi pilihan wisata lokal yang murah dan mudah dijangkau setiap kali tabebuya kembali bermekaran. Ruang publik yang tertata dan tanaman yang terawat dapat memberi manfaat sepanjang tahun, bukan hanya saat bunga sedang mekar.
Sumber: Shabda.id, Portal Harian, dan Joglo Jateng.