Suarapantura.com - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah masih mengkaji rencana pembangunan pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang. Rencana tersebut belum sampai pada tahap beroperasi, dan penilaiannya disebut masih berjalan bertahap.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Johan Hadiyanto, menyampaikan perkembangan itu dalam konferensi pers di kantornya di Semarang, Senin (26/10/2026). Ia menegaskan kapasitas yang direncanakan untuk fasilitas tersebut adalah 240 megawatt, bukan satu gigawatt seperti yang sempat beredar.
Menurut Johan, pembangunan pusat data itu masih berada pada tahap pengembangan. Karena lokasinya berada di kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus, ia menilai aspek kelayakan, perizinan, serta ketersediaan sumber daya sudah diperhitungkan dalam kerangka kawasan tersebut.
Johan juga menyebut penjelasan yang lebih rinci akan disampaikan pada November. Pengumuman resmi itu direncanakan berasal dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bersama pengelola KEK Batang.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi pada Senin (19/10/2026) menyatakan lahan untuk rencana pusat data AI di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) pada prinsipnya sudah disiapkan. Ia menyebut ketersediaan lahan bervariasi, mulai dari satu hektare hingga 58 hektare, sesuai kebutuhan pengembangan.
Luthfi menekankan proyek tersebut masih dalam tahap peninjauan. Ia pun meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan, termasuk terkait kekhawatiran mengenai pemakaian air, sebelum hasil kajian tersedia.
Dari sisi teknis, Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jawa Tengah, Dwi Suryono, menyebut KITB baru menyampaikan garis besar rencana kepada dinasnya. Pihaknya baru menerima informasi tersebut dan masih memantau perkembangannya, karena fasilitas semacam itu membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar serta listrik yang andal.
Secara nasional, rencana Batang sebagai lokasi pusat data sejalan dengan arah pemerintah yang ingin mengembangkan pusat data baru di luar kawasan padat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia dalam Bali Tech Week 2026 di Sanur, Bali, pada 19 Oktober 2026, menyebut Batang bersama Karimun dan Bintan disiapkan sebagai pusat baru untuk melengkapi koridor Malaysia-Singapura.
Alasan yang dikemukakan adalah kebutuhan listrik dan air yang besar dari pusat data, sehingga pengembangannya diarahkan ke lokasi dengan ketersediaan air yang memadai dan kepadatan penduduk yang lebih rendah dibandingkan Jakarta, Jawa Barat, dan Bali. Pemerintah juga berencana memanfaatkan potensi energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan listrik tersebut.
Hingga kini, sejumlah hal masih menunggu kejelasan, antara lain operator yang akan menggarap fasilitas itu, nilai investasi, jadwal konstruksi, serta rincian jaminan pasokan air dan listrik. Kepastian itu diharapkan muncul dalam pengumuman resmi pada November mendatang.
Informasi dalam artikel ini dihimpun dari laporan Kompas.id, Republika, dan Indonesia Business Post.