Suarapantura.com - Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen meluncurkan Gerakan Sak Omah Sak Sumur Resapan (Sopan) di Dusun Gertas, Desa Brongkol, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Selasa (27/10/2026). Gerakan ini mengajak setiap rumah tangga membuat sumur resapan di sekitar rumahnya sebagai upaya menjaga cadangan air tanah.
Peluncuran tersebut menjadikan Gertas sebagai contoh awal. Di dusun ini, sumur resapan sudah dibuat warga sejak 2019 dan dirasakan manfaatnya, terutama dalam menjaga debit air sumur bor tetap stabil.
Saat ini Gertas memiliki lima sumur resapan dengan kedalaman sekitar tiga meter. Pembangunannya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat dengan dukungan Dinas Pertanian Kabupaten Semarang.
Sumur resapan berfungsi menampung air hujan agar meresap ke dalam tanah, bukan langsung mengalir menjadi limpasan permukaan. Dengan begitu, cadangan air tanah tetap terjaga dan bisa dimanfaatkan warga ketika musim kemarau tiba.
Meski demikian, kebutuhan air warga Gertas masih bergantung pada dua sumur bor yang dipakai bergiliran sekitar dua hingga tiga jam untuk setiap rukun tetangga (RT). Dusun ini dihuni sekitar 180 kepala keluarga yang tersebar di lima RT, sehingga jumlah sumur resapan masih perlu ditambah.
Salah satu warga, Isroudin, menuturkan debit air sumur bor di lingkungannya dulu terbilang kecil. Setelah sumur resapan dibangun, aliran air menjadi lebih stabil dan bisa diandalkan warga.
Taj Yasin mencontohkan manfaat nyata yang dirasakan warga Gertas, salah satunya tanaman alpukat yang terus berbuah karena ketersediaan air yang lebih stabil. Kondisi itu menunjukkan bahwa menjaga air tanah bisa berdampak langsung pada penghidupan warga.
Dalam kunjungan itu, Taj Yasin juga berdialog dengan warga dan kelompok tani setempat. Ia berharap gerakan satu rumah satu sumur resapan ini bisa ditiru daerah lain di Jawa Tengah, terutama wilayah yang rawan kekeringan saat musim kemarau.
Gerakan ini dimulai dari tingkat rumah tangga karena setiap rumah dinilai bisa berkontribusi menjaga lingkungan sekitarnya. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berharap kesadaran tersebut tumbuh dari rumah ke rumah, sehingga upaya menjaga air tanah tidak hanya bergantung pada proyek besar, melainkan menjadi kebiasaan warga sehari-hari.
Sumber: Halo Semarang, Inilah.com