Suarapantura.com - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengawal pembangunan hybrid seawall di Kabupaten Demak sebagai bagian dari upaya melindungi kawasan pesisir utara dari ancaman rob, abrasi, dan penurunan muka tanah yang sudah berlangsung lama.
Kawasan pesisir Demak, khususnya Kecamatan Sayung, selama bertahun-tahun menghadapi genangan air laut pasang. Kondisi itu mengancam permukiman warga, tambak, lahan pertanian, serta akses jalan dan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir. Karena itu, perlindungan pantai di wilayah tersebut tidak lagi bisa ditunda dan memerlukan pendekatan yang berkelanjutan.
Konsep hybrid seawall memadukan dua pendekatan sekaligus. Di satu sisi, ada infrastruktur fisik untuk menahan gelombang dan membatasi masuknya air laut ke daratan. Di sisi lain, ada pemulihan ekosistem pesisir, terutama melalui penanaman mangrove dan pemasangan pemecah ombak ramah lingkungan. Kombinasi tersebut diharapkan lebih adaptif terhadap kondisi alam setempat dibandingkan hanya mengandalkan tembok beton semata.
Dalam rangkaian program perlindungan pantai utara Jawa, penanaman mangrove di Desa Timbulsloko, Sayung, menjadi salah satu langkah awal yang sudah dijalankan. Mangrove yang tumbuh baik dapat membantu memecah gelombang, menahan sedimen, dan menjaga ekosistem pesisir. Sementara itu, blok pemecah ombak berbentuk heksagonal yang diproduksi secara lokal digunakan untuk memperkuat perlindungan di garis pantai.
Pengawalan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah penting agar pembangunan berjalan sesuai rencana dan selaras dengan kebutuhan warga. Perlindungan pantai tidak boleh menutup akses nelayan dan petambak ke laut, karena laut merupakan sumber penghidupan utama bagi banyak keluarga di pesisir Demak. Karena itu, setiap tahapan pembangunan perlu memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat setempat.
Selain melindungi permukiman, tanggul pantai di Demak juga berkaitan dengan kawasan industri, jalur logistik, dan sentra produksi pangan di Pantura. Jika kawasan pesisir terus tergerus, dampaknya tidak hanya dirasakan warga setempat, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi yang lebih luas. Pemerintah pun menekankan pentingnya kajian lingkungan dan keterlibatan masyarakat dalam setiap prosesnya.
Ke depan, hybrid seawall di Demak diharapkan menjadi contoh perlindungan pantai yang tidak hanya kuat secara konstruksi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan penghidupan warga. Keberhasilan program ini akan sangat ditentukan oleh konsistensi perawatan, pemantauan kondisi pantai, serta dukungan masyarakat pesisir.
Artikel ini disusun berdasarkan laporan ANTARA News serta keterangan dari Universitas Diponegoro dan otoritas pengelola pantai utara Jawa mengenai konsep dan program perlindungan pesisir di Demak.