Suarapantura.com - Jembatan penghubung di Desa Ngroto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, dilaporkan ambrol dan memutus akses utama warga. Kerusakan itu terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada dini hari Sabtu, 24 Oktober 2026. Sejak saat itu, warga yang biasa melintas lewat jembatan tersebut harus mencari jalur lain untuk beraktivitas.
Jalur yang biasa ditempuh warga hanya sekitar 3 kilometer. Kini, mereka harus memutar melalui wilayah Bawang dengan jarak sekitar 10 kilometer, atau sekitar 7 kilometer lebih jauh dari rute semula. Kondisi ini dirasakan memberatkan, terutama bagi warga yang setiap hari bepergian untuk bekerja, bersekolah, maupun mengangkut hasil usaha.
Selain jarak yang bertambah, terputusnya akses juga memengaruhi mobilitas dan roda perekonomian warga sekitar. Jembatan tersebut menghubungkan Reban, Cablikan, dan Desa Ngroto, sehingga kerusakannya berdampak pada banyak keluarga yang menggantungkan aktivitas harian pada jalur tersebut.
Menanggapi kondisi itu, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan meminta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPMPPR) segera melakukan survei ke lokasi. Survei tersebut diperlukan untuk menilai kondisi kerusakan sekaligus mengkaji sumber pembiayaan perbaikan.
Dalam pernyataannya, bupati membuka peluang perbaikan menggunakan Belanja Tidak Terduga (BTT) atau dana kebencanaan, apabila hasil kajian menyatakan skema tersebut memenuhi ketentuan. Namun, apabila tidak memenuhi syarat, perbaikan kemungkinan baru dapat dilaksanakan pada tahun berikutnya. Hingga laporan ini disusun, belum ada kepastian mengenai kapan perbaikan dimulai maupun target penyelesaiannya, karena keputusan akhir masih menunggu hasil survei lapangan dan kajian regulasi.
Camat Reban Sugiharto menyampaikan bahwa jembatan tersebut rusak setelah hujan deras, dan kondisi tanah di sekitar lokasi diduga tidak mampu menahan derasnya aliran air. Pernyataan itu sejalan dengan dugaan bahwa faktor cuaca dan kondisi tanah sama-sama berperan dalam kerusakan struktur jembatan.
Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret agar akses mereka kembali normal. Sebab, semakin lama jembatan tidak diperbaiki, semakin besar pula beban tambahan yang harus ditanggung warga, baik dari sisi waktu tempuh maupun biaya perjalanan. Pemerintah Kabupaten Batang menyatakan kajian perbaikan menjadi prioritas agar jalur penghubung antarwilayah itu bisa kembali difungsikan.
Sumber: Radar Pekalongan, Arah Pantura, Pemerintah Kabupaten Batang.