Suarapantura.com - Pura Mangkunegaran di Kota Solo bersiap menggelar hajatan besar Dhaup Ageng, pernikahan agung G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo yang akrab disapa Gusti Sura dengan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian. Rangkaian acara yang memadukan prosesi adat, perayaan keluarga, dan pesta rakyat ini dijadwalkan berlangsung selama sepekan, mulai Selasa, 3 November hingga Minggu, 8 November 2026.
Dhaup Ageng merupakan tradisi pernikahan Jawa bagi putra-putri pemimpin istana yang pernah atau sedang bertahta. Gusti Sura adalah putri dalem K.G.P.A.A. Mangkoenagoro IX sekaligus kakak dari Pengageng Mangkunegaran K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X. Perhelatan ini menjadi Dhaup Ageng pertama di Mangkunegaran setelah vakum selama 18 tahun, sejak terakhir kali digelar pada Juni 2008.
Ketua Panitia Dhaup Ageng Mangkunegaran 2026, Sherly Karina, menjelaskan rangkaian resmi dibuka pada Selasa, 3 November 2026 melalui prosesi Sengkeran. Dalam prosesi ini, calon pengantin putri menjalani masa pingitan di Bale Warni, kawasan Keputren, sebagai bentuk persiapan dan pemusatan diri sebelum memasuki jenjang pernikahan. Prosesi Sengkeran dimulai pukul 17.00 WIB, dengan para nini atau abdi dalem perempuan berusia di atas 55 tahun melantunkan tembang di depan kamar.
Keesokan harinya, Rabu, 4 November 2026, prosesi dilanjutkan dengan pemasangan bleketepe, tuwuhan, dan tradisi Adang Sepisan. Bleketepe yang berupa anyaman daun kelapa menjadi penanda sekaligus simbol perlindungan ruang pernikahan adat Jawa, sementara tuwuhan atau rangkaian ornamen tanaman dan hasil bumi melambangkan pertumbuhan, kesuburan, dan harapan akan kehidupan baru bagi pasangan pengantin. Pada hari yang sama, pihak Mangkunegaran juga menggelar prosesi Nyantri, yakni penerimaan calon pengantin pria di Pendapa Ageng sebelum diantar menuju Dalem Prangwedanan.
Pada Kamis, 5 November 2026, rangkaian difokuskan pada penyucian dan persiapan batin. Prosesi diawali dengan Langkahan, saat Gusti Sura memohon izin sekaligus sungkem kepada sang kakak, G.P.H. Paundrakarna Jiwa Suryanegara. Setelah itu dilanjutkan Siraman dengan air dari tujuh sumber mata air berbeda sebagai simbol penyucian lahir dan batin. Malam harinya digelar Midodareni, saat calon pengantin putri berdiam diri di Bale Warni dan tidak diperkenankan keluar kamar.
Puncak acara berlangsung pada Jumat, 6 November 2026. Pemberkatan atau Dhaup Suci digelar secara tertutup di Gereja Santo Antonius Padua Purbayan, dilanjutkan dengan Panggih di dalam keraton dan Resepsi Pertama pada malam harinya di Pendapa Ageng, saat kedua mempelai tampil mengenakan busana dodot ageng. Sehari kemudian, Sabtu, 7 November 2026, digelar Kirab Pengantin pukul 16.00 WIB menggunakan kereta Glasslandauer yang menyusuri jalan protokol Kota Solo dengan titik berangkat dan finis di Pura Mangkunegaran, serta Resepsi Kedua dengan balutan busana Kasatriyan.
Meski sebagian besar prosesi pada 3 hingga 5 November bersifat tertutup dan hanya diperuntukkan bagi keluarga, Mangkunegaran menyiapkan dua agenda khusus untuk masyarakat. Pertama, Kirab Pengantin pada Sabtu, 7 November 2026 yang dapat disaksikan warga di sepanjang rute. Kedua, pesta rakyat bertajuk Mangayubagyo Dhaup Ageng yang dipusatkan di area Pamedan Pura Mangkunegaran selama tiga hari, 6 hingga 8 November 2026.
Dalam Mangayubagyo yang mengusung tema Srawung Kabagyan, Mangkunegaran menyiapkan sekitar 2.000 porsi makanan gratis setiap hari bagi warga dari lima kecamatan di Surakarta serta sejumlah yayasan sosial, termasuk panti asuhan dan panti wreda. Kegiatan ini juga diisi pertunjukan seni dan budaya, persembahan dari lima kabupaten yang memiliki keterhubungan sejarah dengan Mangkunegaran, tarian Langenpraja, pagelaran wayang kulit dalam rangka Hari Wayang Nasional, serta nonton bareng bersama komunitas film Solo.
Panitia juga mengundang para raja yang jumeneng dari Catur Sagotra trah Mataram, yakni Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, dan Kadipaten Pakualaman, serta pejabat kenegaraan dari tingkat pusat hingga pemerintah kota untuk hadir pada sesi resepsi. Panitia memohon maklum karena lalu lintas di sekitar Mangkunegaran diperkirakan cukup padat selama resepsi, yang setiap harinya dihadiri sekitar 1.000 tamu undangan.
Sumber: Solopos, Fokus Jateng.