Suarapantura.com - Pemerintah Kota Surakarta memaparkan strategi percepatan penurunan stunting berbasis data di hadapan perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Bank Dunia. Paparan itu disampaikan saat kunjungan lapangan pemantauan Program Investing in Nutrition and Early Years (INEY) Fase 2 di Pendopo Kecamatan Laweyan, Solo, Senin (2/11/2026).
Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menjelaskan, kunci penanganan stunting di kotanya adalah pemetaan berbasis data. Melalui Solo Stunting Dashboard, kondisi stunting di lima kecamatan dipetakan sehingga intervensi bisa disesuaikan dengan persoalan masing-masing wilayah. Tujuannya satu, mewujudkan Surakarta Zero Stunting.
Menurut Astrid yang juga Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kota Surakarta, stunting tidak bisa ditangani hanya dengan memenuhi gizi anak. Sanitasi, pola asuh, kesehatan ibu dan anak, serta kondisi lingkungan keluarga ikut menentukan keberhasilan intervensi. Karena setiap anak dan setiap wilayah memiliki kebutuhan yang berbeda, penanganannya pun harus tepat sasaran dan dikerjakan bersama-sama.
Di tingkat keluarga, Pemkot Surakarta menjalankan sejumlah program pendampingan. Ada Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) dan Baby Cafe yang menyediakan makanan pendamping ASI bergizi bagi bayi di bawah dua tahun setiap hari. Ada pula Sekolah Cegah Stunting (Seceting) dan Ndulang Bareng untuk edukasi pola asuh secara kolektif di kelurahan, serta layanan Baby Spa Gratis sebagai stimulasi motorik untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Penguatan juga dilakukan melalui Posyandu Plus. Konsep ini memperluas fungsi posyandu agar tidak hanya memantau kesehatan ibu dan anak, tetapi juga menjadi ruang pelayanan terpadu sesuai kebutuhan masyarakat pada setiap siklus kehidupan, mulai dari edukasi, deteksi dini, hingga memastikan anak mendapat intervensi yang dibutuhkan.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan yang melibatkan Task Team Leader INEY Fase 2 dari Bank Dunia, Kementerian PPN/Bappenas, serta Kementerian Kesehatan juga meninjau langsung layanan posyandu. Mereka melihat pelayanan kesehatan masyarakat, pemantauan tumbuh kembang anak, dan pelaksanaan intervensi di tingkat kelurahan.
Capaian Solo di bidang ini sebelumnya tercatat dalam daftar daerah berkinerja baik nasional. Berdasarkan laporan Solopos pada Desember 2025, Kota Solo menempati peringkat 18 dari 197 kota/kabupaten berkinerja baik dalam pencegahan dan percepatan penurunan stunting 2025, dengan jumlah kasus yang turun dari 1.543 kasus pada 2024 menjadi sekitar 1.100 kasus pada awal 2025 dan prevalensi 7,59 persen.
Astrid mengapresiasi pendampingan pemerintah pusat dan Bank Dunia tersebut. Ia berharap kunjungan itu menjadi ruang evaluasi sekaligus penguat kolaborasi lintas sektor, karena perjalanan menuju Surakarta Zero Stunting masih berlanjut dan setiap program harus benar-benar memberi manfaat bagi keluarga yang membutuhkan.
Sumber: MettaNEWS dan Solopos.