Suarapantura.com - Harga cabai di Kabupaten Brebes terus merangkak naik dan dilaporkan menembus Rp80 ribu per kilogram. Kenaikan serupa juga terjadi di Sragen, sehingga komoditas dapur yang selama ini dianggap murah kini menjadi beban baru bagi belanja harian warga.
Lonjakan harga tidak hanya terjadi di Brebes. Di berbagai daerah Jawa Tengah, cabai merah dijual pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram. Data pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional menunjukkan cabai merah besar berada di angka Rp76.450 per kilogram, cabai merah keriting Rp88.250 per kilogram, cabai rawit hijau Rp79.600 per kilogram, dan cabai rawit merah Rp104.500 per kilogram.
Bagi pelaku usaha kecil, kenaikan ini terasa langsung. Pedagang makanan yang setiap hari memakai cabai untuk sambal dan bumbu tidak bisa begitu saja menaikkan harga jual, karena pelanggan dapat berpindah ke warung lain. Selisih biaya bahan baku yang membengkak akhirnya menggerus keuntungan harian mereka.
Untuk meredam gejolak harga, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Bank Indonesia menggelar pasar murah di Kantor Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Kompleks Tarubudaya, Ungaran, Kabupaten Semarang, pada Senin (12/10/2026). Sasarannya adalah pedagang warung, pengusaha katering, petani, dan warga di Kabupaten Semarang serta Kota Semarang.
Di pasar murah tersebut, cabai dijual seharga Rp45 ribu per kilogram, jauh di bawah harga pasaran yang mencapai Rp65 ribu per kilogram pada pembelian terakhir salah satu pedagang. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut kegiatan itu sebagai bentuk intervensi pemerintah. Pemprov menggandeng Bank Indonesia, Perum Bulog, dan petani untuk menahan laju harga, menekan inflasi, serta memastikan bahan pokok tetap tersedia dan terjangkau.
Joko, pedagang nasi goreng, mengaku dua pekan terakhir menjadi masa yang berat. Ia membeli tiga kilogram cabai seharga Rp45 ribu per kilogram di pasar murah, sehingga menghemat Rp20 ribu untuk setiap kilogram. Dalam seminggu, ia membutuhkan sekitar lima kilogram cabai untuk sambal. Sementara itu, Dari, pengusaha katering, merasakan keringanan pada beras yang di pasaran dijual sekitar Rp14 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram, tetapi bisa ia dapatkan seharga Rp11 ribu per kilogram di pasar murah.
Selain meredam gejolak harga saat ini, Pemprov Jawa Tengah juga mengantisipasi ancaman kekeringan akibat El Nino yang berpotensi mengganggu produksi pertanian. Dalam kegiatan itu, warga menerima bantuan beras, sedangkan petani mendapat bantuan sarana perpipaan dan rumah burung hantu untuk membantu mengendalikan hama. Pola tanam petani akan disesuaikan dengan arahan Dinas Pertanian dan Peternakan.
Pemprov Jawa Tengah mencatat produksi padi periode Januari hingga Oktober 2026 diperkirakan mencapai 8,4 juta ton gabah kering giling, atau setara sekitar 4,9 juta ton beras. Produksi cabai diperkirakan 404,91 ribu ton, sedangkan bawang merah 408,76 ribu ton. Hasil panen yang besar dinilai belum cukup tanpa distribusi yang lancar dan harga yang terjangkau di tingkat konsumen.
Warga di Brebes dan wilayah Bregas lainnya diimbau memantau harga di pasar terdekat, membandingkan harga antar-pedagang, dan menyesuaikan belanja dengan kebutuhan. Pemerintah diharapkan melanjutkan intervensi dari hulu hingga hilir agar pasokan tetap terjaga dan tekanan harga berangsur mereda.
Sumber: MetroTVNews, Emsatunews, Bloomberg Technoz/PIHPS Nasional.