Suarapantura.com - Kekhawatiran menyelimuti warga yang bermukim di bantaran Sungai Pedes, Desa Kutamendala, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes. Tebing sungai di wilayah itu dilaporkan ambrol akibat gerusan arus, dan kondisi tersebut dikhawatirkan terus meluas hingga mengancam tempat tinggal warga.
Sejumlah rumah warga dilaporkan telah rusak parah setelah tanah di sekitarnya tergerus. Hingga kini, di titik tersebut belum ada penanganan fisik yang dinilai memadai dari instansi berwenang, sehingga warga cemas rumah mereka sewaktu-waktu ikut ambruk, terutama ketika debit sungai meningkat pada musim hujan.
Merespons kondisi itu, Pemerintah Desa Kutamendala mengangkat persoalan tersebut dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes). Dalam forum itu, pemerintah desa resmi mengusulkan kembali pembangunan tembok penahan tebing sebagai prioritas.
Usulan tersebut diprioritaskan untuk wilayah RW 09 yang kondisinya dinilai paling parah. Penahan tebing diharapkan mampu membendung laju longsor susulan sekaligus melindungi keselamatan warga dan harta benda mereka.
Selain penahan tebing, Musrenbangdes Kutamendala juga menyepakati sejumlah usulan infrastruktur lain. Salah satunya revitalisasi jembatan Sungai Prupuk demi kelancaran mobilitas warga, serta penambahan titik penerangan jalan umum untuk meningkatkan keamanan kawasan pada malam hari.
Forum tersebut juga membahas peningkatan kapasitas aparatur desa. Perangkat desa dan Badan Permusyawaratan Desa direncanakan mendapat pelatihan khusus agar pelayanan publik kepada masyarakat berjalan lebih optimal dan profesional.
Kepala Desa Kutamendala, H. Fathuri, menegaskan bahwa seluruh usulan yang disepakati dalam Musrenbangdes disiapkan untuk perencanaan anggaran tahun 2028. “Musrenbangdes ini untuk usulan perencanaan tahun 2028,” ujarnya.
Di aliran Sungai Pedes yang sama, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebelumnya mempercepat pembangunan bronjong untuk menahan longsor tebing. Bronjong sepanjang sekitar 150 meter itu dibangun di kedua sisi sungai dengan ketinggian sekitar 5,5 meter, dan mencapai sekitar tujuh meter pada bagian ujung untuk menghadapi potensi banjir.
Proyek tersebut juga dilengkapi sembilan krib atau bangunan pengarah arus, serta pelurusan alur sungai yang sebelumnya berbelok. Pengawas lapangan, Wahyudiyanto, menyebutkan pengerjaan bronjong telah selesai dan proyek secara keseluruhan mencapai progres sekitar 97 persen saat ditinjau pada Senin, 19 Oktober 2026.
“Kalau kita lihat, hampir setiap hari terjadi longsoran. Dengan adanya bronjong ini, longsoran bisa tertahan, sehingga tidak langsung menggerus tebing sungai,” kata Wahyudiyanto.
Warga yang tinggal di dekat aliran sungai pun merasakan manfaatnya. Umayah, warga Desa Tanjung, Kecamatan Karangjati, mengaku lebih tenang setelah bronjong dibangun, karena rumahnya berada tidak jauh dari sungai dan jalur transportasi.
Bagi warga Kutamendala, harapan kini tertuju pada usulan yang telah disepakati dalam Musrenbangdes. Mereka berharap penahan tebing segera terakomodasi dalam perencanaan daerah, sebelum gerusan sungai kian mendekati permukiman.
Sumber: Portal Pantura dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (jatengprov.go.id).