Suarapantura.com - Warga Kelurahan Debong Lor, Kota Tegal, mengeluhkan proyek sanitasi yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Tegal karena pekerjaannya berhenti di tengah jalan. Lokasi proyek dibiarkan dalam keadaan terbongkar, tanpa kepastian kapan pekerjaan akan dilanjutkan.
Proyek tersebut dikerjakan oleh CV Karya Muda. Pekerjaan diawali dengan pembongkaran bangunan lama pada 13 Oktober 2026. Namun, hingga Rabu, 28 Oktober 2026, tidak ada lagi aktivitas pekerja di lokasi. Kondisi itu membuat warga resah, terutama karena musim hujan sudah di depan mata dan kawasan tersebut rawan genangan.
Ketua RT 03 RW 03 Kelurahan Debong Lor, Warasno, yang juga merupakan kerabat penerima manfaat program, mengatakan pekerjaan hanya berjalan sebentar sebelum ditinggalkan. Ia menyebut para pekerja tidak lagi datang ke lokasi, dengan alasan menunggu pekerjaan di tempat lain selesai terlebih dahulu. Akibatnya, lokasi proyek menjadi rusak dan berantakan, sementara manfaat program belum bisa dirasakan warga.
Keluhan warga tidak berhenti pada pekerjaan yang mangkrak. Pengerjaan yang sudah dilakukan pun dinilai kurang cermat, karena sebagian bangunan baru yang dipasang justru ikut pecah dan rusak. Warga khawatir kerusakan itu akan memperburuk risiko kebocoran dan genangan air ketika hujan turun.
Persoalan koordinasi juga disorot. Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Debong Lor, Aji, mengaku pihaknya tidak pernah menerima informasi mengenai pelaksanaan program jambanisasi tersebut. Menurut dia, LPMK baru mengetahui persoalan ini setelah ada laporan dari warga. Ia berharap pemerintah melibatkan RT, RW, LPMK, dan kelurahan sejak tahap perencanaan, agar pelaksanaan program dapat dipantau bersama dan tepat sasaran.
Menanggapi keluhan itu, Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Tegal, Teguh Sugiartono, menyatakan pihaknya akan segera menegur pelaksana pekerjaan. Ia menegaskan pelaksana wajib berkoordinasi dengan dinas apabila menemui kendala teknis maupun kendala di lapangan, dan pekerjaan tidak boleh ditinggalkan begitu saja sebelum dinyatakan selesai serta diterima oleh masyarakat penerima manfaat.
Dinas juga berkomitmen memperbaiki mekanisme koordinasi dengan kelurahan dan lembaga kemasyarakatan setempat, agar kejadian serupa tidak terulang pada program berikutnya. Hingga kabar ini diturunkan, lokasi proyek masih terbongkar tanpa aktivitas lanjutan. Warga berharap pekerjaan segera dirampungkan sebelum curah hujan semakin tinggi.
Sumber: Ketik.com dan Koran Pelita.