Jamasan Sunan Amangkurat Agung di Makam Tegal Arum Pesarean Adiwerna, Tidak Ada Prosesi Ganti Klambu
Ade Windiarto•
Seputar Bregas
SuaraPantura.com - Jamasan Astana Sunan Amangkurat Agung kembali dilaksanakan oleh Keraton Surakarta, bertempat di komplek Pemakaman Tegal Arum, Desa Pesarean, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, Minggu 21 Juli 2024.
Acara Jamasan Sunan Amangkurat Agung dilakukan setiap tahun oleh keluarga dan kerabat Keraton Surakarta dengan melalui berbagai tradisi dan ritual yang sudah ditetapkan pihak keraton.
Turut hadir dalam Jamasan Sunan Amangkurat Agung, Pengageng Parentah Keraton Surakarta Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Adipati Drs. Dipokusumo bersama Ratu dan keluarga serta kerabat, Kepala DPUPR Kabupaten Tegal Teguh Dwijanto Rahardjo, Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal Pembayun Sulistyorini beserta jajarannya, budayawan, Pemerintah Desa Pesarean, tokoh agama serta tokoh masyarakat.
Menurut Adipati Dipokusumo, acara Jamasan Sunan Amangkurat Agung secara rutin dilaksanakan setiap bulan Suro (Muharam). Dan untuk tahun ini dilaksanakan melalui berbagai rangkaian acara yang diakhiri dengan tahlil dan do'a di Makam Sunan Amangkurat Agung.
Sementara Ketua Panitia Jamasan Sunan Amangkurat Agung, Raden Mas Ngabei Sri Hono Wiharto mengatakan, Makam Sunan Amangkurat Agung merupakan salah satu cagar budaya dan wisata budaya yang perlu dilestarikan.
"Karena ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, maka dijadikan agenda rutin Pemerintah Kabupaten Tegal melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Apalagi Sunan Amangkurat Agung ini merupakan raja yang sangat berpengaruh dalam perjalanan sejarah Kerajaan Mataram Islam," jelasnya.
Selain itu, lanjut Sri Hono, acara semacam ini sebagai upaya melestarikan budaya dan mengedukasi masyarakat tentang sejarah budaya masyarakat, terutama di tanah Jawa.
"Acara ini sudah menggunakan aturan baku dari keraton berupa do'a dan tahlil karena mengingat Kerajaan Mataram merupakan kerajaan Islam. Dan tadi ada iringan drum band serta pengawalan pasukan keraton untuk mengiringi rombongan yang membawa abon-abon," ungkap Sri Hono.
Ditambahkan Sri Hono, untuk jamasan kali ini tidak ada prosesi ganti klambu, karena hanya dilakukan do'a dan tahlil di dalam makam, serta acara lain di sekitar makam-makam kerabat lainnya.***