Oleh: Yolanda Tania (Mahasiswa Universitas Peradaban, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia)
SuaraPantura.com - Dalam era digitalisasi yang serba instan, menulis seringkali dianggap sesuatu yang sulit atau ketinggalan zaman, generasi muda lebih memilih menggunakan komunikasi instan yang mendominasi daripada menulis. Menulis merupakan proses kreatif yang memungkinkan kita untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan yang sedang dirasakan. Ketika kita menuangkan ide ke dalam tulisan, secara tidak sadar kita sedang mengorganisir pikiran, dan menemukan makna kata yang jarang diketahui atau tersembunyi.
Menulis juga dijadikan alat komunikasi yang efektif, dengan tulisan kita dapat menyampaikan ide, pikiran, dan perasaan kepada orang lain secara jelas. Perasaan yang kerap kali dirasakan oleh generasi gen z, terutama di kalangan sekolah menengah atas adalah perasaan yang bimbang akan arah tujuannya ke mana, entah tentang studinya, maupun hubungan dengan kekasihnya.
Mahasiswa PPL di SMA Negeri 1 Paguyangan, khususnya dari Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, mengadakan kegiatan dialog interaktif tentang penulisan puisi dengan tema “Mengubah Rasa menjadi Kata” dengan sasaran peserta ekstrakurikuler KSPP (Komunitas Siswa Pecinta Perpustakaan).
“Menulis puisi dapat menjadi ajang dalam pengungkapan perasaan, pikiran, dan imajinasi diri sendiri.” ujar Alda, pemantik dalam kegiatan penulisan puisi.
Kegiatan ini berkelanjutan, berarti akan ada pertemuan selanjutnya yang membahas lebih rinci bagaimana cara membuat puisi, lalu luaran dari program ini adalah menciptakan sebuah buku antologi puisi, bertema puisi romance. Siswa, dapat menuangkan imajinya ke dalam aksara yang mereka rangkai sedemikian rupa.
Selanjutnya, pada pembahasan dijabarkan langkah-langkah dalam membuat puisi, sebagai berikut: 1) Menentukan tema, tema dapat diambil dari pengalaman pribadi, observasi terhadap lingkungan, ide, bahkan dari pemikiran abstrak. Tema yang disajikan fokus pada satu tema, agar puisi tidak terlalu menyebar dan pesan yang ingin disampaikan lebih jelas. 2) Memilih kata kunci, pilih kata-kata yang bermakna untuk menggambarkan atau mendeskripsikan tema yang akan dipilih, kata-katanya terdapat imaji yang mampu membangkitkan imajinasi pembaca.
3) Pemilihan diksi yang tepat, sesuaikan dengan nuansa puisi yang ingin diciptakan, gunakan bahasa yang variatif dan kata-kata yang bermakna konotatif. 4) Membuat imaji, menciptakan gambaran mental dengan menggunakan kata-kata yang dapat membangkitkan visualisasi, pendengaran, atau perasaan dari pembaca, gunakan majas seperti perumpamaan, personifikasi atau metafora.
5) Menggunakan rima dan irama, rima bisa diartikan sebagai persamaan bunyi pada akhir kata, sedangkan irama adalah pola bunyi yang berulang, biasanya puisi modern tidak selalu menggunakan rima dan irama. 6) Membangun struktur puisi, menentukan jumlah larik dan bait yang akan dibuat.
Langkah selanjutnya, 7) Mengembangkan puisi, dengan cara ulangi dan perbaiki, baca ulang puisi, perbaikilah kata-kata yang kurang tepat, dan atur ulang jika perlu, tunjukkan puisi kepada orang lain untuk dapat memberikan perspektif yang berbeda.
Dengan demikian, menulis puisi bukan sekadar mengejar keindahan kata, tetapi juga sebuah perjalanan untuk menemukan jati diri. Melalui puisi, kita dapat mengeksplorasi emosi, pikiran, dan imajinasi yang terpendam. Dengan demikian, menulis puisi tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga dapat menginspirasi orang lain.***