SuaraPantura.com - Menanggapi ungkapan Ketua DPRD DKI Jakarta yang dianggap telah mendeskriditkan produk budaya yakni makanan telur Asin Khas Brebes, seorang pendidik asal Tegal, Nur Sidik angkat bicara.
Menurutnya ungkapan Ketua DPRD DKI Jakarta yang menyebut "Daripada kunker ke Brebes, Tegal beli telur asin, kentutnya bau. Mendingan berangkat kami ke luar negeri,” itu sangat miskin etika.
"Ketua DPRD DKI Jakarta kok omongannya seperti itu, tidak mencerminkan kebijaksanaan malah sarat miskin etika," ungkapnya.
Ia meminta ketua DPRD DKI Jakarta tersebut segera klarigmfikasi dan melakukan permohonan maaf kepada masyarakat.
"Sesegera mungkin dengan jiwa ksatria untuk meminta maaf karena atas perbuatannya menyakiti masyarakat Brebes dan Tegal," terangnya.
Nur Sidik menjelaskan, betapa banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari telur asin ini.
"Rangkaiannya dari peternak bebek di Tegal, kemudian para pengrajin telur serta pedagangnya di Brebes, mereka semua menggantungkan hidupnya dari usaha ini, dibuat sakit hati dan produknya direndahkan, ini jelas jahat" ungkapnya.
Sebelumnya, Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetyo Edi Marsudi diduga ko mengeluarkan pernyataan yang kontroversi saat mengusulkan program kunjungan kerja ke luar negeri dalam Rapat Badan Anggaran DPRD DKI Jakarta pada Rabu Malam, 9 Agustus 2023.
Dirinya membandingkan kunker di daerah Brebes dan Tegal dengan kunker di Luar Negeri.
Kalimatnya dalam menyampaikan argumen inilah dianggap menimbulkan kontroversi. Pasalnya dirinya menyebut Daripada kunker ke Brebes, Tegal beli telur asin, dan kentutnya bau mending ke luar negeri.
"Daripada kunker ke Brebes, Tegal beli telur asin, kentutnya bau. Mendingan berangkat kami ke luar negeri,” ungkapnya.
Ia pun kemudian menceritakan pengalamannya saat melakukan kunker ke Jepang untuk belajar menangani sampah.
Ia menyebut sampah disana tidak menimbulkan bau karena warganya disiplin.
Selain itu Ia juga menceritakan pengalamannya saat kunker ke Rusia.
Menurutnya budaya Indonesia dengan mudah diterima disana.
Ia menceritakan adanya patung Bung Karno di tengah kota Moskow.
Ia kemudian mengutarakan keinginannya melakukan pertukaran budaya ke Moscow.***