Oleh: Lutfi AN
SuaraPantura.com - Andaikan Walikota Tegal Siti Mashita gagal dicokok KPK tak tertutup kemungkinan H. Ahmad Ghoutsun, S.Sos melejit mengalahkan petahana dan manjadi walikota.
Pemerintahan represif yang dipimpin Shita saat itu telah mendapatkan pertentangan kuat dari masyarakat. Jigo, panggilan akrab Ghoutsun sempat menjadi wacana pengganti walikota mendatang.
Tokoh Jigo ini memang responsibility pada fenomena politik lokal boleh dibilang peka. Ketika masyarakat Kota Tegal 'tiarap' menyusul dua orang aktifis dipenjarakan, Jigo tampil sebagai martil melakukan negosiasi dan perlawanan. Dia sempat menjadi ikon perlawanan pemerintahan Shita.
Rekam jejak mantan ketua DPRD Kota Tegal sekaligus ketua DPC PKB ini unik. Ketika banyak anggota dewan menghendaki menduduki jabatan Ketua DPRD, Jigo malah mengundurkan diri dari jabatan bergengsi itu.
Alasan paling kuat pengunduran diri Jigo bisa dibilang sederhana; tidak lagi mendapatkan dukungan dari Gus Dur terkait dengan prosesi Muswil PKB Jateng. Padahal jika tidak digubris, Jigo masih bisa memimpin di DPRD Kota Tegal.
Cerdik dan cermat adalah identitas Jigo dalam berpolitik. Keinginan untuk bisa memberikan manfaat pada rakyat begitu besar. Maka bukan sesuatu yang aneh, ketika beliau tidak menjabat apa pun di partai maupun di legislatif, dorongan hati nurani para aktifis untuk melakukan perlawanan pada pemerintahan Shita bagi Jigo sebuah panggilan yang tak bisa ditolak.
Keberanian lainnya, penulis mencatat baru kali pertama terjadi di Kota Tegal calon walikota menggunakan kendaraan non partai jalur independen. H. Ahmad Ghoutsun bin Nasori mampu menggenapkan persyaratan KPU yang harus dipenuhinya meski berat.
Sebelumnya gagasan jalur Independen ini pernah diprakarsai bakal calon walikota H.Sisdiono Ahmad dengan ketua Timnya Dr. Yayat Hidayat Amir (alm), namun kandas di jalan karena tak mencapai yang dipersyaratkan KPU.
Jigo memang sesuatu, pantang surut ke belakang. Sayang, pasca Siti Mashita dicokok KPK antrean calon pilkada berjubel hingga 5 pasang. Dampaknya calon independen tidak laku dan kalah suara padahal sebelumnya Ghoutsun satu-satunya ikon perlawanan di pemerintahan Shita.
Mantan Direktur STIMIK yang dikenal sebagai pejuang anti penindasan pada pemerintahan Shita kini telah tiada. Di usia 59 tahun, petarung telah berpulang. Jigo meninggalkan kita semua. Tutup usia di bulan Ramadhan penuh berkah. Selamat jalan Ji...barokallah.***