SuaraPantura.com - Bagi kalian yang sering berlalu-lalang di jalur pantura Kabupaten Tegal tentu sudah tak asing lagi dengan Kalipah.
Kalipah adalah nama sungai yang melintas di daerah Pantura Kabupaten, tepatnya di Jalan Raya Tegal-Pemalang KM 5, sehingga terdapat jembatan yang dikenal dengan Jembatan Kalipah
Banyak cerita yang beredar di masyarakat seputar Jembatan Kalipah ini.
Mulai dari mitos menyalakan klakson, tradisi menggendong pengantin yang melintas, hingga kisah mistis yang diceritakan turun temurun.
Namun kali ini kita tak akan bahas mistis-mistisan, namun menggali kecerdasan leluhur di balik kebiasaan yang dianggap mitos, biar kalian naik kelas ngga mistis-mistis mulu nanti ngga maju. Heu heu heu...
Nah di jembatan Kalipah ini dari dulu ada mitor sebar uang koin saat melintas. Hal itu pun dilakukan oleh para supir yang melintasi jembatan tersebut.
Mitos yang berkembang adalah dengan menyebar uang koin ini maka akan diberikan keselamatan bagi para pengendara dan dijauhkan dari musibah dan kesialan.
Nah, sudah terlihat kecerdasan orang tua jaman dulu?.
Mereka menyuruh dan membiasakan sedekah dengan lempar uang koin di jembatan ini merupakan bahasa dakwah berupa anjuran bersedekah secara halus yang bahkan hampir orang tah tahu.
Uang koin di jembatan itu menjadi surga bagi masyarakat yang membutuhkan, serta anak-anak jaman dulu sebagai uang jajan.
Orang tua jaman dulu memberikan patok tempat jembatan, dimana kalian bisa memberi dan memperoleh uang tanpa berhadap hadapan dengan siapa yang memberi dan siapa yang menerima.
Konsep keikhlasan dengan uang koin ini luar biasa.
Yang memberi uang koin itu pun ikhlas tanpa riya dan berharap keselamatan.
Kenapa uang koin? Sebab jika terkena hujan panas tidak rusak dan masih tetap bisa dimanfaatkan penerimanya.
Bukan mitos ketika melempar uang koin ini akan terhindar dari kesialan, sebab bukankah sedekah itu bisa menolak bala atau kesialan?.
Nah ini salah satu penjelasan konsep lempar koin diluar perspektif mitos yang mistis.
Sebab leluhur kita itu cerdas dalam membahasakan perintah yang baik tanpa terlihat menyuruh atau memaksa.
Pahami adat secara luhur bukan secara mistis, maka pesan leluhur akan diterjemahkan secara luhur dan bijaksana.
Ada mitos apalagi? Sini kita bahas bersama biar cerdas.hi hi hi...
***