Suarapantura.com - Keamanan data perbankan kembali menjadi sorotan setelah akun Instagram @mositidakpercaya_id, @kementerian_kontroversi dan banyak lainnya mengunggah dugaan kebocoran data nasabah Bank Negara Indonesia atau BNI dalam jumlah besar.
Dalam unggahan tersebut disebutkan adanya dugaan kebocoran sekitar 1,5 terabyte data nasabah yang diduga diperjualbelikan di dark web. Informasi yang diklaim bocor disebut mencakup foto KTP, paspor, nomor telepon, hingga dokumen perbankan.
Unggahan itu juga menyebut sebagian data diduga dibuka sebagai sampel gratis oleh peretas untuk menarik pembeli di forum ilegal.
Meski belum ada verifikasi independen maupun konfirmasi resmi terkait validitas data tersebut, isu ini memicu kekhawatiran publik mengenai keamanan layanan perbankan digital di Indonesia.
“Yang dipertaruhkan bukan sekadar nomor rekening. Jika data seperti KTP, paspor, kontrak perbankan, dan dokumen identitas benar-benar bocor, dampaknya bisa menjalar ke pencurian identitas, penipuan digital, pembajakan akun, hingga penyalahgunaan data lintas platform,” tulis akun @mositidakpercaya_id dalam unggahannya.
Di media sosial, sejumlah warganet mulai mengaku menerima pesan WhatsApp dan panggilan telepon mencurigakan yang mengatasnamakan layanan bank. Modus yang digunakan disebut beragam, mulai dari permintaan verifikasi data hingga tautan palsu yang mengarah pada praktik phishing.
Jika dugaan kebocoran data tersebut benar terjadi, ancamannya dinilai tidak hanya menyangkut privasi pengguna. Penyalahgunaan identitas, pembobolan rekening, penipuan digital, hingga pengambilalihan akun dapat semakin meluas di tengah tingginya aktivitas transaksi digital masyarakat.
“Dalam ekosistem digital yang saling terhubung, satu kebocoran dapat membuka banyak celah sekaligus,” lanjut unggahan tersebut.
Kasus dugaan kebocoran data juga kembali memunculkan perhatian terhadap sistem keamanan siber sektor keuangan nasional. Di era ketika hampir seluruh aktivitas finansial terhubung secara digital, perlindungan data pribadi menjadi isu krusial yang menyangkut rasa aman jutaan pengguna layanan perbankan.
Hingga berita ini ditulis, pihak Bank Negara Indonesia belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan kebocoran data tersebut maupun langkah mitigasi yang dilakukan.