Suarapantura.com - Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria mengungkap adanya penurunan nilai aset (impairment) hingga Rp100 triliun di lingkungan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Nilai impairment tersebut ditemukan dalam proses pembenahan tata kelola dan transparansi laporan keuangan yang sedang dilakukan Danantara bersama BP BUMN terhadap perusahaan-perusahaan pelat merah.
“Anda bisa bayangkan pada tahun ini saja impairment hampir Rp100 triliun akibat kesalahan tata kelola,” ujar Dony Oskaria dalam keterangannya, Kamis (21/5/2026).
Menurut Dony, pembenahan laporan keuangan menjadi langkah penting sebelum laporan keuangan final Danantara dipublikasikan pada pertengahan 2026. Selain impairment aset, pihaknya juga tengah menyelesaikan persoalan potensi gagal bayar dana pensiun BUMN.
“Tahun ini saya harus menyelesaikan lagi potential default dan exposure kita dana pensiun kurang lebih Rp50 triliun,” katanya.
Dony menjelaskan akar persoalan yang membebani keuangan BUMN selama ini berasal dari lemahnya tata kelola perusahaan. Ia menyebut praktik rekayasa keuangan atau financial engineering kerap dilakukan demi mempercantik kinerja perusahaan di atas kertas.
Akibat praktik tersebut, negara dan perusahaan akhirnya harus menanggung kerugian besar akibat investasi yang dinilai digelembungkan, kesalahan manajemen, hingga dugaan fraud atau kecurangan.
“BUMN harus berubah, harus bertransformasi menjadi lebih transparan dan dikelola menjadi lebih baik,” tegasnya.
Ia mengungkapkan terdapat empat faktor utama yang menyebabkan kerugian di tubuh BUMN. Faktor tersebut meliputi rekayasa keuangan untuk memperbaiki performa, investasi yang dibesar-besarkan, kelalaian dalam pengelolaan perusahaan, hingga praktik fraud.
“Kesalahan yang terjadi akibat empat hal. Financial engineering tujuannya performance terlihat lebih baik. Karena investasi yang digelembungkan dan dibesar-besarkan. Rugi karena keteledoran dalam me-manage atau rugi karena fraud,” ujar Dony.
Selain nilai impairment yang melonjak, sektor dana pensiun BUMN juga menjadi perhatian serius karena menyimpan risiko besar berupa potensi gagal bayar yang nilainya mencapai puluhan triliun rupiah.
Karena itu, manajemen Danantara disebut memilih menyelesaikan dan menertibkan seluruh pos keuangan bermasalah terlebih dahulu sebelum laporan keuangan resmi dipublikasikan kepada publik.