Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Adu Ekspansi Kredit BNI, Mandiri, dan BCA: Pertumbuhan Tinggi Belum Tentu Paling Unggul

Sabila JP•
Ekbis

Ilustrasi: Kinerja kredit BNI, BCA, dan Bank Mandiri di September 2026. (Foto: istimewa)

Suarapantura.com - Persaingan penyaluran kredit tiga bank besar nasional, yakni PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan PT Bank Central Asia Tbk (BCA), memperlihatkan strategi ekspansi yang berbeda hingga kuartal III 2026.

BNI mencatat pertumbuhan kredit paling tinggi, sedangkan Bank Mandiri unggul dari sisi nilai penyaluran. Di sisi lain, BCA mempertahankan ekspansi dengan dukungan kuat dari pembiayaan sektor produktif.

Data hingga September 2026 menunjukkan kredit BNI tumbuh 22,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp992,5 triliun. Bank Mandiri mencatat pertumbuhan 16 persen menjadi Rp1.606 triliun, sementara BCA tumbuh 12,6 persen menjadi Rp1.063 triliun.

Sebagai pembanding, berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kredit perbankan nasional tumbuh 13,26 persen yoy pada September 2026.

Angka tersebut menempatkan BNI sebagai bank dengan ekspansi kredit paling agresif di antara ketiganya. Bank Mandiri juga masih tumbuh di atas industri, sementara pertumbuhan BCA sedikit berada di bawah rata-rata nasional.

Namun, besarnya pertumbuhan kredit bukan satu-satunya ukuran untuk menilai kekuatan bisnis perbankan. Kualitas aset, kemampuan menghimpun dana, profitabilitas, dan tekanan margin juga menjadi faktor penting.

BNI Pimpin Pertumbuhan, tetapi Margin Tertekan

BNI menjadi bank dengan pertumbuhan kredit tertinggi di antara tiga pesaing tersebut. Hingga September 2026, penyaluran kredit perseroan mencapai Rp992,5 triliun, meningkat 22,2 persen yoy.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyebut pertumbuhan tersebut merupakan hasil konsistensi perseroan dalam menjaga momentum bisnis, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko.

“Di tengah dinamika pasar yang menantang, BNI tetap menjaga momentum pertumbuhan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam pengelolaan risiko. Fokus kami adalah memperkuat fundamental dan produktivitas untuk menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Selasa, 27 Oktober 2026.

Kredit BNI ke Agrinas Tembus Rp45,8 Triliun, Investor Khawatir Risiko KDMP
Baca Juga · Ekbis
Kredit BNI ke Agrinas Tembus Rp45,8 Triliun, Investor Khawatir Risiko KDMP

Dari sisi kualitas aset, BNI mencatat perbaikan rasio loan at risk (LaR) dari 10,4 persen menjadi 7,8 persen. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross juga turun dari 2 persen menjadi 1,9 persen.

Meski demikian, ekspansi kredit BNI masih diikuti tekanan pada margin. Rasio net interest margin (NIM) turun 30 basis poin menjadi 3,5 persen, sejalan dengan penurunan imbal hasil kredit.

Dari sisi pendanaan, BNI mencatat pertumbuhan dana giro dan tabungan atau current account and savings account (CASA) sebesar 19,6 persen yoy menjadi Rp733,7 triliun.

Dengan demikian, tantangan BNI bukan hanya mempertahankan laju pertumbuhan kredit, tetapi juga memastikan ekspansi tersebut menghasilkan pendapatan yang sepadan dan tidak menggerus margin terlalu dalam.

Bank Mandiri Unggul dari Sisi Nilai Kredit dan Laba

Berbeda dengan BNI yang memimpin dari sisi persentase pertumbuhan, Bank Mandiri memiliki portofolio kredit terbesar di antara ketiga bank tersebut.

Hingga September 2026, kredit konsolidasi Bank Mandiri mencapai Rp1.606 triliun, tumbuh 16 persen yoy. Angka ini menempatkan Bank Mandiri di atas pertumbuhan industri perbankan nasional.

Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menjelaskan, pertumbuhan kredit menjadi salah satu penopang kinerja keuangan perseroan sepanjang sembilan bulan pertama 2026.

“Hingga September 2026, laba bersih konsolidasi mencapai Rp45,5 triliun, tumbuh 20,7 persen secara tahunan,” ujar Novita dalam konferensi pers kinerja keuangan kuartal III 2026, Jumat, 23 Oktober 2026.

BNI Imbau Nasabah Waspadai Telepon yang Mengatasnamakan Pihak Bank
Baca Juga · Ekbis
BNI Imbau Nasabah Waspadai Telepon yang Mengatasnamakan Pihak Bank

Kualitas kredit Bank Mandiri juga menunjukkan perbaikan. NPL tercatat 0,98 persen, turun dari 1,03 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara rasio NPL coverage mencapai 243 persen.

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) Bank Mandiri tumbuh 17,7 persen yoy menjadi Rp1.750,18 triliun. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK industri yang tercatat 8,22 persen menurut data BI.

Kombinasi ekspansi kredit dan penghimpunan dana tersebut menjadi salah satu penopang laba bersih konsolidasi Bank Mandiri sebesar Rp45,5 triliun.

BCA Andalkan Kredit Produktif dan Kualitas Aset

Sementara itu, BCA mencatat pertumbuhan kredit sebesar 12,6 persen yoy menjadi Rp1.063 triliun hingga kuartal III 2026.

Meski pertumbuhannya berada di bawah BNI dan Bank Mandiri, BCA menunjukkan penguatan pada segmen pembiayaan produktif. Kredit produktif mencapai Rp831 triliun atau tumbuh 17,2 persen yoy.

Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menyampaikan bahwa perseroan tetap berkomitmen memperluas pembiayaan ke berbagai sektor ekonomi dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas.

“BCA berkomitmen menyalurkan kredit ke beragam sektor untuk mendukung perekonomian nasional dengan senantiasa mempertimbangkan prinsip kehatian-hatian dan kondisi likuiditas perseroan,” kata Hendra dalam konferensi pers kinerja kuartal III 2026, Selasa, 27 Oktober 2026.

Jika dirinci, kredit korporasi menjadi motor utama pertumbuhan BCA. Segmen ini meningkat 20,9 persen yoy menjadi Rp528,1 triliun.

Dana Sudah Disetor, QRIS hingga Transfer Tak Bisa Dipakai: Nasabah Pertanyakan Layanan MNC Bank
Baca Juga · Ekbis
Dana Sudah Disetor, QRIS hingga Transfer Tak Bisa Dipakai: Nasabah Pertanyakan Layanan MNC Bank

Kredit UKM tumbuh 15,4 persen menjadi Rp149,2 triliun, sedangkan kredit komersial meningkat 7,8 persen menjadi Rp154,1 triliun.

Dari sisi pendanaan, DPK BCA tumbuh 8 persen yoy menjadi Rp1.301 triliun. CASA meningkat 10,4 persen menjadi Rp1.103 triliun.

BCA juga melaporkan NPL sebesar 1,8 persen dan rasio loan at risk (LAR) sebesar 4,6 persen hingga September 2026.

Siapa Paling Agresif dan Siapa Paling Unggul?

Jika hanya melihat pertumbuhan kredit, BNI menjadi pemenang dengan ekspansi 22,2 persen yoy. Bank Mandiri berada di posisi kedua dengan 16 persen, sedangkan BCA mencatat pertumbuhan 12,6 persen.

Namun, dari sisi nominal penyaluran, Bank Mandiri masih berada di posisi teratas dengan kredit Rp1.606 triliun. BCA menyusul dengan Rp1.063 triliun, sementara BNI mencapai Rp992,5 triliun.

Dari sisi kualitas kredit, Bank Mandiri mencatat NPL paling rendah sebesar 0,98 persen. BCA berada di level 1,8 persen, sedangkan BNI sebesar 1,9 persen.

Perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa ketiga bank memiliki keunggulan masing-masing. BNI unggul dalam kecepatan ekspansi, Bank Mandiri dalam skala portofolio dan laba, sementara BCA memperlihatkan kekuatan pada pembiayaan produktif dan pengelolaan risiko.

Pada akhirnya, persaingan ketiga bank tidak cukup dinilai dari siapa yang paling cepat menyalurkan kredit. Kemampuan menjaga kualitas aset, mempertahankan margin, dan memastikan pertumbuhan menghasilkan keuntungan berkelanjutan akan menjadi ukuran yang lebih menentukan.

Tags:
#BNI#BCA#Bank Mandiri#Kredit
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…