ilustrasi gedung BNI. Dok. BNI
Suarapantura.com - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menaikkan target pertumbuhan kredit tahun 2026 menjadi 10–13 persen. Revisi tersebut dilakukan di tengah perlambatan ekonomi domestik, dengan mempertimbangkan prospek bisnis nasabah dan kapasitas permodalan perseroan.
Sebelumnya, BNI mematok target pertumbuhan kredit sebesar 8–10 persen untuk sepanjang 2026. Namun, melihat perkembangan penyaluran kredit dan permintaan pembiayaan di sejumlah sektor, manajemen memutuskan menaikkan proyeksi tersebut.
Direktur Keuangan dan Strategi BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan, keputusan itu didasarkan pada kondisi nasabah yang dinilai masih menunjukkan kinerja positif, meskipun situasi ekonomi secara umum menghadapi sejumlah tantangan.
“Revisi ke atas ini mencerminkan adanya perbedaan kondisi antara perekonomian domestik secara umum dengan segmen-segmen spesifik yang kami layani,” katanya dalam pertemuan dengan analis pekan lalu.
Menurut Paolo, pertumbuhan kredit BNI tidak sepenuhnya bergantung pada siklus konsumsi domestik. Perseroan justru mengandalkan sektor-sektor yang memiliki prospek pertumbuhan tersendiri, terutama sumber daya alam dan infrastruktur strategis.
Permintaan dari sektor tersebut disebut masih kuat, didukung aktivitas ekonomi dan kebutuhan pasar global. BNI juga ikut membiayai sejumlah program strategis pemerintah, termasuk program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) melalui PT Agrinas Pangan Nusantara.
Kredit Agrinas Rp45,8 Triliun Jadi Perhatian
Salah satu pembiayaan yang menonjol adalah kredit BNI kepada Agrinas. Hingga September 2026, nilai kredit yang disalurkan mencapai Rp45,8 triliun.
Jumlah tersebut setara sekitar 65 persen dari total kredit korporasi BNI yang mencapai Rp70 triliun. Besarnya porsi pembiayaan ini membuat perkembangan pembayaran Agrinas menjadi salah satu aspek penting dalam pengelolaan risiko kredit perseroan.
Paolo memastikan risiko pembiayaan tersebut telah dikelola dengan baik. BNI juga telah menerima pembayaran angsuran pertama dari Agrinas.
Meski demikian, besaran angsuran pertama dan rincian jadwal pembayaran berikutnya belum dijelaskan dalam keterangan yang disampaikan. Transparansi mengenai perkembangan pembayaran tetap menjadi hal penting untuk menilai keberlanjutan pembiayaan tersebut.
Secara keseluruhan, kredit BNI tumbuh 22,2 persen secara tahunan menjadi Rp992,5 triliun. Segmen wholesale masih menjadi penopang utama, dengan kontribusi yang relatif berimbang dari korporasi besar dan korporasi menengah.
Kredit Investasi Ikut Melaju 25 Persen
Hal lain yang menjadi perhatian BNI adalah pertumbuhan kredit investasi di tengah kondisi ekonomi domestik yang belum sepenuhnya kuat.
Paolo menjelaskan, perlambatan ekonomi biasanya berdampak pada belanja modal perusahaan. Dalam kondisi tersebut, korporasi cenderung lebih banyak membutuhkan kredit modal kerja untuk menjaga arus kas dibandingkan mengambil pembiayaan investasi baru.
Namun, menurutnya, pola tersebut tidak sepenuhnya terlihat pada portofolio BNI.
Pada periode yang sama, kredit modal kerja dan kredit investasi BNI secara bank only sama-sama tumbuh 25 persen secara tahunan.
Kredit modal kerja mencapai Rp570,4 triliun, sedangkan kredit investasi meningkat menjadi Rp242,2 triliun.
Menurut Paolo, pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa nasabah BNI masih memiliki kemampuan untuk mengembangkan kapasitas usaha, bukan sekadar mencari pembiayaan untuk mempertahankan operasional.
“Kami melihat adanya permintaan investasi yang nyata dan didorong oleh pasar global, bukan semata-mata pembiayaan untuk mengatasi kesulitan keuangan,” katanya.
Modal dan Likuiditas Jadi Modal Ekspansi
Selain prospek bisnis nasabah, BNI juga mengandalkan kapasitas neraca keuangan untuk mendukung peningkatan penyaluran kredit.
Paolo menyebut kondisi permodalan dan likuiditas perseroan masih memadai di tengah tekanan yang membayangi industri perbankan.
Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) BNI tercatat sebesar 19,2 persen. Sementara rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau loan to deposit ratio (LDR) berada di level 87,9 persen.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan manajemen untuk menaikkan target pertumbuhan kredit hingga 13 persen pada akhir 2026.
Meski demikian, peningkatan target penyaluran kredit tetap membutuhkan pengawasan terhadap kualitas aset dan kemampuan debitur membayar kewajibannya. Terlebih, sebagian ekspansi BNI ditopang pembiayaan bernilai besar kepada sektor korporasi dan program strategis pemerintah.
Dengan target baru tersebut, tantangan BNI bukan hanya mencapai pertumbuhan kredit yang lebih tinggi, tetapi juga memastikan ekspansi tidak mengorbankan kualitas pembiayaan dan kesehatan keuangan perseroan.