Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Pantura Jawa Dalam Ancaman, Abrasi Gerus Lebih dari 65 Persen Garis Pantai

Sabila JP•
Jateng Pantura

Suarapantura.com – Kondisi pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa kian memprihatinkan. Hasil penelitian terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional menunjukkan sebagian besar garis pantai di kawasan tersebut mengalami abrasi serius dalam dua dekade terakhir.

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Tubagus Solihuddin, mengungkapkan bahwa sekitar 65,8 persen garis pantai Pantura mengalami pengikisan sepanjang periode 2000 hingga 2024. Temuan tersebut dipaparkan dalam forum diskusi bertajuk “Pantura Tangguh, Indonesia Lestari” yang berlangsung di Gedung BJ Habibie, Jakarta.

Menurut Tubagus, persoalan yang dihadapi Pantura tidak hanya berkaitan dengan abrasi semata, melainkan sudah berkembang menjadi krisis pesisir yang kompleks.

“Pantura Jawa sedang menghadapi krisis nyata. Tantangannya bukan hanya erosi, abrasi, dan banjir, tetapi juga kenaikan muka air laut dan penurunan tanah. Ini bukan isu lokal, melainkan isu nasional,” ujarnya dikutip dari siaran pers, Senin (4/5/2026).

Baca Juga · Jateng Pantura
Kabur ke Hutan, Dua Terduga Pengedar Obat Keras Ditangkap di Purbalingga

Dari hasil analisis citra satelit Sentinel, kawasan Pantura didominasi proses erosi dengan persentase mencapai 65,8 persen. Sementara penambahan daratan atau akresi hanya berada di angka 34,2 persen.

Fenomena tersebut dinilai tidak normal karena wilayah delta pada dasarnya cenderung mengalami sedimentasi alami. Namun, aktivitas manusia di kawasan hulu seperti pembangunan bendungan, kanalisasi, hingga pengalihan aliran sungai disebut menghambat suplai sedimen menuju wilayah pesisir.

Dampak abrasi kini mulai dirasakan di berbagai daerah. Di kawasan Tanjung Pontang, Serang, laut dilaporkan telah menghilangkan daratan seluas 1,72 kilometer persegi. Sementara di Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi, air laut masuk hingga sekitar 4 kilometer ke daratan dan merendam lebih dari 1.000 hektare tambak warga.

Jaga Integritas APBD 2027, Sekda Jateng Ingatkan Anggaran Bukan Hak Pribadi
Baca Juga · Jateng Pantura
Jaga Integritas APBD 2027, Sekda Jateng Ingatkan Anggaran Bukan Hak Pribadi

Ancaman serupa juga terjadi di Legonkulon, Subang. Intrusi air laut sejauh 2 kilometer menyebabkan sekitar 700 hektare tambak terdampak. Sedangkan di Indramayu, abrasi mengakibatkan akses jalan desa sepanjang 500 meter hingga 1 kilometer terputus.

Kondisi lebih parah terjadi di Demak, Jawa Tengah. Air laut dilaporkan telah merangsek hingga 5 sampai 6 kilometer ke wilayah daratan sehingga area persawahan dan permukiman berubah menjadi genangan laut.

BRIN menilai kerentanan Pantura turut dipengaruhi kondisi geologis. Sebagian besar kawasan pesisir tersusun dari endapan tanah yang belum padat sehingga mudah mengalami erosi dan penurunan permukaan tanah.

Lahir di Magelang, Prof CC Chan Kembali ke Indonesia Ajak Bangun Ekosistem Kendaraan Listrik
Baca Juga · Jateng Pantura
Lahir di Magelang, Prof CC Chan Kembali ke Indonesia Ajak Bangun Ekosistem Kendaraan Listrik

Selain itu, mayoritas wilayah Pantura berada di dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 10 meter di atas permukaan laut. Kondisi tersebut membuat kawasan pesisir utara Jawa semakin rentan terhadap kenaikan muka air laut dan cuaca ekstrem.

Tekanan terhadap lingkungan pesisir juga diperburuk oleh pesatnya pembangunan kawasan ekonomi, alih fungsi lahan, serta berkurangnya hutan mangrove yang selama ini menjadi pelindung alami pantai.

Berdasarkan data altimetri periode 1993 hingga 2025, muka air laut di Pantura tercatat naik rata-rata 0,41 hingga 0,42 sentimeter per tahun. Dalam kurun 32 tahun terakhir, kenaikan permukaan laut diperkirakan sudah mencapai sekitar 15,5 sentimeter.

Tags:
#Abrasi#Pantura#Pagar laut#Brin
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…