Suarapantura.com - Nama Profesor Ching-Chuen Chan atau Prof CC Chan kembali menjadi perbincangan publik Indonesia pada akhir Oktober 2026. Ilmuwan yang dijuluki Bapak Kendaraan Listrik Asia itu ternyata lahir di Magelang, Jawa Tengah, sebelum meniti karier akademik dan riset hingga dikenal di tingkat internasional.
Chan lahir dari keluarga pengusaha keturunan Tionghoa di Indonesia. Ia kemudian menempuh pendidikan tinggi di Tiongkok, antara lain di Universitas Pertambangan dan Teknologi Tiongkok serta Universitas Tsinghua, lalu meraih gelar doktor dari Universitas Hong Kong pada 1982. Perjalanan panjang itu membawanya dari Magelang menuju pusat-pusat riset teknologi dunia.
Kontribusi besar Chan terletak pada pengembangan sistem penggerak motor arus bolak-balik atau alternating current untuk kendaraan listrik. Pada era 1980-an, ketika kendaraan listrik masih jauh dari arus utama industri otomotif, ia telah mempublikasikan riset tentang sistem penggerak, baterai, dan hubungan teknologi transportasi dengan kebutuhan energi dan lingkungan. Riset tersebut kemudian berkembang menjadi teknologi penggerak dan kendali motor yang menjadi fondasi kendaraan listrik modern.
Pada 1986, Chan mendirikan Pusat Riset Internasional untuk Kendaraan Listrik di Universitas Hong Kong. Ia juga berperan dalam pembentukan Asosiasi Kendaraan Listrik Dunia serta berbagai organisasi profesi yang mendorong pengembangan teknologi kendaraan listrik. Gelar Bapak Kendaraan Listrik Asia yang disandangnya disebut berasal dari majalah Global View pada 2003, merujuk pada kiprah riset, pendidikan, dan pengembangannya selama puluhan tahun.
Pengakuan internasional lain turut mengiringi kariernya. Chan tercatat sebagai akademisi pertama dari Hong Kong yang terpilih menjadi anggota Akademi Teknik Tiongkok, anggota Akademi Teknik Kerajaan Inggris, serta penerima sejumlah penghargaan, termasuk Medali Emas Bauhinia dari pemerintah Hong Kong pada 2024. Profil akademiknya juga mencatat ratusan makalah teknis, belasan buku, dan sejumlah paten.
Kehadiran Chan kembali menjadi sorotan setelah ia bertemu Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie pada Selasa, 27 Oktober 2026. Sehari kemudian, pada Rabu, 28 Oktober 2026, ia diterima Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Wakil Presiden, Jakarta. Pertemuan itu membahas penguatan riset nasional, pengembangan industri kendaraan listrik, serta pentingnya ruang inovasi bagi generasi muda.
Dalam kunjungannya, Chan menyampaikan pesan yang konsisten: teknologi tidak cukup dibeli, melainkan harus dibangun sendiri. Menurut dia, Indonesia memiliki sumber daya alam dan pasar yang besar untuk kendaraan listrik, tetapi kemampuan riset dan produksi inovasi tetap membutuhkan investasi jangka panjang. Ia juga menyoroti peluang pengembangan sepeda motor listrik sebagai salah satu langkah awal yang realistis.
Chan merumuskan tiga pilar kemajuan teknologi suatu bangsa. Pertama, sains harus menjawab pertanyaan mengapa, sebagai kebenaran dasar dan fondasi pengetahuan. Kedua, rekayasa harus menjawab pertanyaan bagaimana, sebagai jembatan yang mengubah pengetahuan menjadi produk nyata. Ketiga, ekosistem dan kebijakan harus menopang perjalanan dari laboratorium menuju produksi massal, dengan melibatkan ilmuwan, insinyur, pelaku usaha, dan investor, serta regulasi pemerintah sebagai puncaknya.
Kepada generasi muda Indonesia, Chan berpesan agar terus memelihara rasa ingin tahu, gemar bertanya, dan membuka pikiran terhadap inovasi. Ia menegaskan bahwa pengetahuan tidak bisa dibeli begitu saja, melainkan harus diciptakan melalui riset dan kerja keras. Bagi Magelang dan Jawa Tengah, kisah Chan menjadi pengingat bahwa ilmuwan berkelas dunia bisa berangkat dari kota kecil, dan bahwa masa depan teknologi Indonesia perlu dibangun lewat kemampuan generasinya sendiri.
Artikel ini disusun berdasarkan laporan detikcom dan Aktualita.co.