Suarapantura.com - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengimbau jemaah umrah, termasuk yang berasal dari Jawa Tengah, untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul meningkatnya ketegangan keamanan di Arab Saudi. Imbauan ini disampaikan setelah serangan yang diduga dilancarkan kelompok Houthi terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi melaporkan serangan tersebut menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya. Sejumlah korban luka dilaporkan masih menjalani perawatan di rumah sakit, beberapa di antaranya dalam kondisi kritis. Operasional bandara sempat dihentikan sementara untuk pemeriksaan kerusakan dan penilaian keselamatan fasilitas.
Juru Bicara Kemenhaj, Ichsan Marsha, meminta jemaah yang belum berangkat untuk terus berkoordinasi dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) masing-masing. Jemaah diminta memastikan jadwal keberangkatan, status penerbangan, dan kesiapan perjalanan melalui sumber resmi, serta tidak mengambil keputusan berdasarkan informasi yang belum terverifikasi, terutama yang beredar di media sosial.
"Kami meminta jemaah yang belum berangkat untuk terus berkoordinasi dengan penyelenggara perjalanan dan memastikan informasi keberangkatan melalui sumber resmi," kata Ichsan dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026.
Bagi jemaah yang sudah berada di Arab Saudi, Kemenhaj meminta agar kegiatan difokuskan pada pelaksanaan ibadah di Makkah dan Madinah. Perjalanan ke luar kedua wilayah tersebut yang tidak mendesak sebaiknya dibatasi. Jemaah juga diminta menghindari lokasi yang berpotensi rawan, mematuhi arahan otoritas setempat, serta menjaga komunikasi dengan penyelenggara perjalanan.
Kemenhaj memastikan tidak ada jemaah umrah Indonesia yang menjadi korban dalam serangan tersebut. Berdasarkan data yang terdaftar di sistem Kemenhaj, hingga Minggu, 11 Oktober 2026, tercatat 37 jemaah yang berangkat dan pulang melalui Bandara Internasional King Khaled, Riyadh. Setelah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan KBRI Riyadh, dipastikan tidak ada jemaah umrah Indonesia yang menjadi korban.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri menyiapkan rencana kontingensi pelindungan bagi warga negara Indonesia (WNI) di Arab Saudi. Direktur Pelindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, menyampaikan bahwa saat ini terdapat 581.000 WNI di Arab Saudi, yang terdiri atas 351.070 warga menetap dan 229.930 peziarah. Hingga 11 Oktober 2026, dipastikan tidak terdapat WNI yang meninggal dunia, sementara KBRI Riyadh terus menyisir sejumlah rumah sakit untuk memverifikasi kemungkinan adanya WNI di antara korban luka.
Keluarga jemaah di Jawa Tengah diimbau tetap tenang dan hanya mempercayai informasi resmi dari Kemenhaj, Kementerian Luar Negeri, serta perwakilan RI di Arab Saudi. Penyelenggara perjalanan juga diminta meningkatkan pengawasan terhadap jemaah, memberikan pendampingan, dan menyampaikan informasi terbaru apabila terjadi perubahan jadwal perjalanan.
Sumber: Ketik.com, BeritaHaji.id, Samudrafakta