Suarapantura.com - Sekelompok mahasiswa Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Perhutani Jawa Tengah di Jalan Pahlawan, Kota Semarang, pada Jumat (16/10/2026) sore. Mereka menyuarakan keprihatinan atas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah, terutama Kalimantan, serta mendesak pemerintah mengambil langkah yang lebih tegas.
Aksi tersebut berlangsung mulai sekitar pukul 15.30 WIB. Para peserta membawa poster dan menyampaikan orasi secara bergantian. Mereka menilai asap akibat kebakaran telah mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas sehari-hari, hingga mata pencaharian warga di daerah terdampak.
Koordinator lapangan aksi, Azmi Pratama, mengatakan sebagian mahasiswa Unissula yang berasal dari Kalimantan merasakan langsung dampak kebakaran di kampung halaman mereka. Menurut dia, jarak pandang yang memburuk dan kualitas udara yang menurun membuat warga kesulitan beraktivitas dan mencari nafkah.
Dalam aksi itu, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan. Pertama, pemerintah diminta menetapkan karhutla sebagai bencana nasional agar penanganannya di wilayah-wilayah terdampak, seperti Kalimantan, Riau, Jambi, Sumatra, dan Papua Selatan, ditangani lebih serius dan terkoordinasi.
Kedua, mereka meminta aparat penegak hukum dan instansi terkait bertindak tegas terhadap pihak-pihak yang diduga sengaja membakar lahan. Mahasiswa menilai praktik pembakaran untuk membuka lahan tidak boleh dibiarkan karena merugikan masyarakat luas dan merusak lingkungan.
Ketiga, mereka mendesak pencopotan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni. Menurut para pengunjuk rasa, upaya pencegahan kebakaran, khususnya di lahan gambut yang rawan terbakar, dinilai masih lemah dan cenderung reaktif.
Keempat, mahasiswa meminta pemerintah membuka informasi hak guna usaha (HGU) kepada publik agar masyarakat dapat ikut mengawasi legalitas pemanfaatan lahan. Kelima, mereka meminta pengawasan terhadap kawasan hutan dan lahan gambut yang rawan kebakaran diperketat dengan mengutamakan pencegahan.
Dalam orasinya, mahasiswa juga mengutip sebuah kajian Universitas Gadjah Mada yang menyebut sebagian besar kejadian karhutla dipicu aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan dan pertambangan. Mereka menilai temuan itu menegaskan bahwa kebakaran tidak semata-mata persoalan musim kemarau.
Selain menyampaikan tuntutan, mahasiswa menyatakan berencana menggalang dana untuk membantu warga dan mahasiswa dari daerah terdampak. Mereka juga menyatakan mendukung diterimanya bantuan dari negara lain apabila penanganan di dalam negeri dinilai belum memadai, mengingat asap kebakaran dapat melintasi batas wilayah.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah maupun pihak terkait yang dikutip dalam pemberitaan mengenai aksi tersebut. Aksi mahasiswa sendiri berlangsung dengan penyampaian orasi di depan kantor Perhutani Jawa Tengah.
Sumber: Kompas.com dan Espos.id.