Suarapantura.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, terus meluas. Hingga Sabtu (17/10/2026), luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 100 hektare, sementara petugas gabungan masih berupaya mengendalikan api di medan yang sulit dijangkau.
Kebakaran pertama kali diketahui pada Kamis (15/10/2026). Api membakar kawasan hutan pinus dan ilalang dengan titik awal di sejumlah petak hutan di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu. Pemantauan menggunakan drone thermal mendeteksi sekitar 11 titik panas, dan jumlah titik api dilaporkan bertambah dari empat menjadi lima titik.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar menyebut tumpukan daun kering atau serasah yang mudah terbakar setelah kemarau panjang sebagai pemicu utama meluasnya api. Kondisi tersebut dinilai menjadi penyebab utama, bukan aktivitas pembakaran sampah oleh warga.
Sekitar 300 personel gabungan dari berbagai unsur disiagakan di lokasi pada Sabtu. Dari jumlah itu, sekitar 190 relawan mendapat instruksi naik langsung ke lereng gunung untuk melakukan pemadaman manual dan membuat sekat api. Sehari sebelumnya, sekitar 350 personel dari 42 unsur sempat ditarik mundur pada Jumat (16/10/2026) sekitar pukul 14.00 WIB karena angin kencang yang tidak menentu dan medan terjal yang mengarah ke jurang dinilai membahayakan keselamatan petugas.
Titik api terbesar terpantau berada di kawasan selatan Punthuk Gede. Api diperkirakan bergerak ke arah pos bayangan di jalur pendakian Cemoro Kandang dan berpotensi meluas hingga ke wilayah Ngargoyoso. Untuk mengantisipasi hal itu, tim gabungan menyiapkan penyekatan di jalur pendakian, terutama pada rentang pos dua hingga pos empat, agar api tidak mudah melompat ke kawasan lain.
Sebagai langkah antisipasi risiko terhadap masyarakat dan pendaki, seluruh jalur pendakian menuju puncak Gunung Lawu masih ditutup total selama petugas gabungan melanjutkan upaya pemadaman.
BPBD Karanganyar berkoordinasi dengan kepolisian, pemerintah kabupaten, dan BPBD tingkat provinsi untuk mengevaluasi penggunaan water bombing atau pemadaman melalui udara. Opsi itu dipertimbangkan karena kondisi medan menyulitkan penanganan langsung, dan sumber air sulit dibawa menuju lokasi kebakaran sehingga petugas selama ini mengandalkan cara manual.
Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah mengunjungi posko karhutla dan mendorong penetapan status tanggap darurat bencana. Pemerintah Kabupaten Karanganyar pun menyiapkan penetapan status tersebut agar penanganan kebakaran dapat diperkuat.
Warga dan pendaki diimbau tidak mendekati kawasan terdampak serta mematuhi penutupan jalur pendakian hingga kondisi dinyatakan aman. Perkembangan arah angin, kondisi medan, dan pergerakan titik api menjadi faktor penentu strategi pemadaman berikutnya.
Sumber: BSI News, Fokus Jateng, RRI.