Suarapantura.com - Warga Desa Klapa, Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara, memilih membangun balai desa baru dengan dana swadaya. Sekitar 1.000 kepala keluarga (KK) sepakat patungan setelah balai desa lama dinilai sudah tidak lagi aman digunakan untuk pelayanan.
Balai desa lama dilaporkan mengalami kerusakan sejak 2013-2014. Pada masa itu, anggaran desa lebih diprioritaskan untuk perbaikan jalan sehingga perbaikan balai desa belum menjadi prioritas. Kondisi bangunan pun terus memburuk dari tahun ke tahun.
Situasi semakin sulit sejak 2018, ketika Dana Desa tidak lagi dapat digunakan untuk pembangunan fisik balai desa. Pemerintah desa pun tidak memiliki sumber pembiayaan yang memadai untuk membangun gedung baru.
Selama sekitar tiga tahun terakhir, perangkat Desa Klapa terpaksa menumpang di gedung pengajian Muslimat untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Gedung tersebut menjadi solusi sementara agar urusan administrasi warga tetap berjalan.
Kepala Desa Klapa, Safrudin, menggambarkan betapa memprihatinkannya kondisi balai desa lama. Saat musim hujan, perangkat desa yang masih bertugas di bangunan itu bahkan memakai helm karena khawatir atap bangunan runtuh.
Pemerintah desa sebenarnya sudah mengajukan bantuan pembangunan balai desa kepada pemerintah daerah. Lokasi pembangunan bahkan sudah pernah disurvei dan diukur. Namun, hingga kini bantuan tersebut belum terealisasi.
Melihat kondisi itu, warga berinisiatif menggalang dana secara mandiri. Iuran dikoordinasikan oleh para ketua RT dan RW. Setiap kepala keluarga menyisihkan Rp75 ribu yang dibayarkan selama tujuh bulan.
Dari iuran tersebut, terkumpul dana sekitar Rp75 juta hingga Rp80 juta. Respons warga terbilang positif. Sebagian warga bahkan memberikan sumbangan lebih besar, hingga Rp500 ribu, sesuai kemampuan masing-masing.
Selain uang tunai, warga dan donatur juga menyumbangkan material bangunan berupa semen, batu bata, dan besi dengan nilai diperkirakan Rp30 juta hingga Rp40 juta. Bantuan material itu membantu menekan biaya pembangunan.
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Klapa, Khafid, mengatakan warga mendukung pembangunan ini karena menginginkan balai desa yang representatif dan aman digunakan untuk kepentingan bersama.
Proses pembangunan balai desa baru kini telah mencapai sekitar 50 persen. Meski dana yang terkumpul belum mencukupi seluruh kebutuhan, warga berharap pembangunan dapat terus berjalan dengan tambahan dukungan dari donatur.
Bagi warga Desa Klapa, balai desa bukan sekadar bangunan. Gedung itu dibutuhkan untuk pelayanan administrasi, kegiatan pemerintahan desa, dan berbagai kepentingan bersama. Melalui semangat gotong royong, mereka berharap fasilitas pelayanan yang lebih layak segera terwujud.
Sumber: Joglo Jateng dan Banyumas Ekspres.