Suarapantura.com - Kinerja investasi di Provinsi Jawa Tengah menunjukkan tren positif sepanjang tahun berjalan. Hingga triwulan III 2026, realisasi investasi di provinsi ini mencapai Rp72,54 triliun atau setara 73,21 persen dari target tahunan yang ditetapkan sebesar Rp99,09 triliun.
Capaian tersebut merealisasikan 82.420 proyek usaha dan menyerap 340.334 tenaga kerja. Komposisi investasi terdiri atas penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp31,77 triliun dan penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp40,77 triliun.
Lima daerah mencatatkan realisasi investasi tertinggi. Kabupaten Kendal menempati posisi teratas dengan nilai Rp13,61 triliun, disusul Kota Semarang sebesar Rp9,07 triliun, Kabupaten Batang Rp8,54 triliun, Kabupaten Temanggung Rp5,05 triliun, dan Kabupaten Demak Rp4,29 triliun.
Data tersebut dipaparkan saat Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi membuka Semarang Business Forum (SEMBIZ) ke-19 Tahun 2026 di The Suri Ballroom, Queen City Mall, Kota Semarang, Rabu (21/10/2026).
Dalam forum tersebut, Luthfi mengungkapkan adanya rencana masuknya 57 perusahaan asal Vietnam yang bergerak di sektor padat karya. Perusahaan-perusahaan tersebut disebut akan membangun usaha atau membuka cabang di Jawa Tengah.
"Ada 57 perusahaan Vietnam padat karya nanti akan membangun di wilayah kita. Karena role model kegiatan padat karyanya Vietnam sama dengan kita. Dan dia akan buka cabang di wilayah kita," kata Luthfi.
Menurut Luthfi, masuknya perusahaan padat karya berpotensi membuka kesempatan kerja bagi masyarakat. Daerah perlu menyiapkan iklim usaha yang kondusif, tenaga kerja yang kompetitif, serta infrastruktur dan konektivitas antarkawasan.
Ia juga mendorong Kota Semarang menjadi pusat penghubung investasi, perdagangan, dan pariwisata yang mengintegrasikan potensi ekonomi daerah-daerah di sekitarnya, seperti Kabupaten Kendal, Kabupaten Demak, Kabupaten Grobogan, dan Kota Salatiga.
Luthfi menegaskan pengembangan ekonomi daerah tidak bisa hanya mengandalkan anggaran pemerintah. Investasi swasta dan kolaborasi antardaerah diperlukan untuk menciptakan kegiatan ekonomi baru, memperluas usaha, dan membuka lapangan pekerjaan.
"Business forum ini ada tiga hal yang sangat krusial. Yang pertama tourism, yang kedua trade, dan yang ketiga investasi. Ini tiga mata rantai yang tidak bisa kita pisahkan," ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan Kota Semarang memiliki keterbatasan lahan untuk pengembangan kawasan industri berskala besar. Karena itu, Semarang diarahkan memperkuat sektor perdagangan dan jasa, sedangkan daerah-daerah penyangga dapat mengambil peran dalam pengembangan industri.
"Kota Semarang tidak bisa sendiri. Pemerintah Kota Semarang tidak bisa sendiri. Maka kami mengundang seluruh investor untuk turut serta bersama-sama mengembangkan usaha untuk kebersamaan dan kemajuan," kata Agustina.
Agustina menambahkan, salah satu peluang investasi yang ditawarkan adalah pengembangan kawasan wisata Tinjomoyo yang melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ia menegaskan pengembangan aset publik melalui kerja sama dengan pihak ketiga harus tetap memperhatikan kepentingan masyarakat sekitar.
Tantangan ke depan adalah mendorong realisasi investasi menjadi kegiatan usaha produktif yang mampu menyerap tenaga kerja dan menggerakkan perekonomian masyarakat.
Sumber: TIMES Indonesia, Radar Solo