Suarapantura.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Sumbing dan Gunung Lawu memang sudah padam, tetapi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan penutupan sementara seluruh jalur pendakian gunung di Jawa Tengah masih berlaku. Jalur baru akan dibuka kembali setelah status siaga darurat dicabut dan curah hujan terpantau stabil.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah, Heru Djatmika, menjelaskan bahwa imbauan penutupan itu tertuang dalam surat bernomor S/500.4/891/2026. Surat tersebut merujuk pada Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1/237 Tahun 2026 tentang status siaga darurat bencana kekeringan dan karhutla di Jawa Tengah.
Sesuai arahan Gubernur Ahmad Luthfi, pengelola jalur pendakian diminta menutup sementara seluruh jalur dan memperketat patroli untuk mencegah pendakian ilegal. Pengelola juga diminta menyosialisasikan pencegahan karhutla, memasang imbauan larangan pembakaran terbuka dan pembuatan api unggun, serta memperkuat koordinasi dengan instansi terkait.
Heru menilai edukasi menjadi kunci karena dugaan sementara penyebab kebakaran di Sumbing dan Lawu adalah kelalaian manusia dalam mengelola api. Ia meminta para pendaki bersabar dan menunda rencana pendakian sampai kondisi benar-benar aman. "Dibukanya jika situasi khusus untuk dua gunung itu (Sumbing dan Lawu) tanggap daruratnya dicabut, dan kami nanti melihat ketika hujannya sudah stabil," kata Heru, Minggu (1/11/2026).
Penutupan itu tidak hanya berlaku untuk Sumbing dan Lawu. Jalur di Gunung Slamet, Gunung Muria, Gunung Merapi, Gunung Telomoyo, dan Gunung Merbabu juga masih ditutup. Secara khusus, jalur Gunung Lawu via Cetho dan Cemoro Kandang serta Gunung Sumbing via Temanggung dan Kalianget masih ditutup penuh hingga pemulihan ekosistem dan kondisi cuaca memenuhi syarat keamanan.
Ketua Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Jawa Tengah, Lazuardi, mengapresiasi kebijakan tersebut sebagai langkah preventif agar kebakaran tidak meluas. Menurutnya, sejumlah anggota APGI di sekitar basecamp turut membantu pemantauan di lokasi.
Lazuardi mengimbau pendaki menaati prosedur keselamatan yang ditetapkan pengelola atau basecamp, termasuk aturan penggunaan api selama pendakian. Ia juga berharap penanaman kembali segera dilakukan serta ada pelatihan penanganan kebencanaan dari instansi terkait, karena kebakaran itu berdampak pada perekonomian warga sekitar dan alam.
Berita ini disusun berdasarkan laporan Sukoharjonews.com dan MataBicara.co yang mengutip keterangan DLHK Jawa Tengah.