SuaraPantura.com - Laporan Water Environment Partneship in Aisia (WEPA), Indonesia memiliki 6% potensi air dunia. Namun, prediksi yang dilakukan oleh kajian resmi pemerintah mengatakan pada tahun 2040 Jawa akan kehilangan hampir seluruh sumber air bersih.
Heru Santoso dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Pada tahun 2005, Heru melakukan penelitian Dampak Perubahan Iklim terhadap Neraca Air Pulau Jawa.
Dengan perangkat lunak MAGICC/SCENGEN, dirinya menyusun skenario potensi air di Jawa sampai tahun 2070. “Rentang waktu ini untuk memperlihatkan perbedaan yang signifikan karena jika jarak waktunya terlalu pendek tidak terlalu kelihatan dampaknya.”
Perangkat lunak MAGICC membantu peneliti seperti Heru untuk menentukan perubahan konsentrasi gas rumah kaca, suhu udara permukaan rata-rata global, dan permukaan laut yang dihasilkan dari emisi antropogenik.
Sementara SCENGEN menyusun serangkaian proyeksi perubahan iklim yang eksplisit secara geografis untuk dunia menggunakan hasil dari MAGICC. “Tahun 2018 saya melakukan penghitungan lagi dengan model terbaru MAGICC/SCENGEN, prediksinya masih sama,” ujar Heru.
Heru menjelaskan, alih fungsi lahan dari area resapan menjadi pemukiman dan daerah industri mengancam sumber air di Jawa. "Jawa masih menjadi daerah industri andalan. Tahun 2040 diprediksi semua wilayah di Pantai Utara Jawa mulai dari Banten sampai Surabaya akan menjadi wilayah urban yang berpotensi mengalami defisit ketersediaan air,” tutur Heru.
Ia menekankan pentingnya membudayakan penghemataan air. “Ada daerah yang kekeringan, sementara ada juga daerah yang sampai kelebihan air. Neraca air ini harus diseimbangkan,” ujarnya.
Selain itu, ia juga memandang perlunya pemanfaatan air marginal seperti air payau. “Air marginal sebetulnya bisa dimanfaatkan kalau ada teknologi yang murah. Saat ini belum ada teknologi di Indonesia yang mampu memenuhi untuk kebutuhan dalam jumlah besar. Sementara di negara-negara Timur Tengah air laut sudah bisa disuling untuk air bersih,” uajrnya.
Ia mengungkapkan prinsip reuse dan recycle ini bisa jadi salah satu opsi untuk mengantisipasi potensi krisis air di Jawa. “Manfaatkan air-air marginal. Salah satunya dengan penyulingan air. Mungkin teknologinya masih mahal kalau sekarang, namun ke depan ini bisa bermanfaat,” tutupnya
***