SuaraPantura.com - Penutupan tempat prostitusi Peleman Pantura Tegal, jelas menimbulkan pro dan kontra.
Akan tetapi, itu konsekuensi sebuah pilihan, apapun yang terjadi. Mau baik ataupun buruk tetep harus dijalani oleh para PSK dan mucikari, walaupun ladang uang dengan hanya ngangkang terputus. Tapi melangkah kedepan dengan hal baik adalah agenda sekarang.
Ya kenangan-kenangan indah penuh gairah bertabur materi. Memang tak bisa dilupakan, apalagi kenikmatan itu sungguh nyata.
Tak peduli dosa, karena pilihan itu, hanya satu-satunya untuk menggapai cita-cita. Untuk menanggung beban hidup yang penuh gaya.
" Kalau lagi rame, sehari saya bisa mendapatkan puluhan juta mas, bahkan pada saat datang bulan pun, saya masih mendapatkan uang. Walaupun hanya sekadar mijit ataupun nemenin tamu bernyanyi". Ujar bunga (23) sebut saja demikian.
Tapi sekarang lanjut bunga, susah banget mas. Terlebih stigma negatif masyarakat terhadap PSK masih erat melekat, dan sangat susah untuk dihilangkan. Ibarat kata hidup segan mati tak mau.
" Hendak hidup normal pun susah banget. Belum pada mau menerima kehadiran saya, Mau mangkal lagi pun sudah ditutup. Dapat bantuan hanya seberapa, bingung mas!!" Terangnya.
Derita bunga, mungkin dirasakan temen-temen seprofesinya. Dan kalaupun masih ada yang mangkal ataupun menerima tamu dengan cara panggilan.
Itu adalah salah satu pilihan mereka. Karena tuntutan kebutuhan hidup sangat besar sekali.
" Uang bantuan tak cukup untuk bertahan hidup mas. Mau dagang mau kerja pun susah. Keahlian tak ada, ijasah tak punya. Ya terpaksa kalau ada pelanggan yang kangen, dan minta dilayani serta digoyang. Ya saya terima dengan senang hati. Pokoknya anda puas, saya puas dan bayar. Hehehe, Tapi itu pun hanya beberapa saja mas". Timpal kenanga salah satu temen mawar.
***