Suarapantura.com - Pemerintah Kabupaten Brebes resmi membuka Festival Literasi 2026 pada Kamis, 15 Oktober 2026. Pembukaan dilakukan Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma di kompleks Gedung Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dinarpus) Kabupaten Brebes. Festival yang mengusung tema "Literasi Maju, Brebes Beres" ini berlangsung selama empat hari, hingga Minggu, 18 Oktober 2026.
Dalam sambutannya, Bupati Paramitha menyebut penguatan budaya membaca sebagai salah satu kunci untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Brebes. Menurut dia, upaya menumbuhkan minat baca tidak bisa hanya ditopang pemerintah kabupaten, melainkan harus melibatkan kecamatan dan desa hingga menyentuh masyarakat secara luas.
Kepala Dinarpus Kabupaten Brebes Nurjanto menjelaskan, Festival Literasi 2026 merupakan penyelenggaraan tahun kedua dan ditetapkan sebagai agenda tahunan. Pelaksanaannya mengacu pada Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2022 tentang Perpustakaan. Festival ini diharapkan menjadi wadah untuk mendongkrak minat baca masyarakat Brebes dari berbagai kalangan.
Selama empat hari, panitia menyiapkan rangkaian kegiatan yang menyasar pelajar, pustakawan, pegiat literasi, hingga masyarakat umum. Salah satu yang paling dinanti adalah bazar buku murah dari Gramedia yang menawarkan potongan harga besar, sehingga warga bisa menambah koleksi bacaan dengan harga lebih terjangkau. Perwakilan Gramedia Rita Supermall Tegal, Muhlis, mengajak masyarakat memanfaatkan kesempatan tersebut selama festival berlangsung.
Selain bazar buku, festival juga menghadirkan pelatihan menulis aksara Jawa, bedah buku dari penerbit Gramedia, serta panggung band sekolah yang tampil setiap sore. Pengunjung juga dapat menikmati pertunjukan seni dan budaya serta berbagai kegiatan literasi lainnya di kawasan Dinarpus.
Pada Jumat, 16 Oktober, rangkaian acara diisi pementasan seni budaya tingkat TK hingga SMA se-Kabupaten Brebes. Agenda berlanjut dengan bimbingan teknis literasi informasi bagi pegiat literasi serta gelar wicara literasi digital yang menyasar pengurus OSIS dan Pramuka.
Pada Sabtu, kegiatan berlanjut dengan bimbingan teknis literasi untuk pustakawan, pelatihan membuat hampers balon bagi ibu rumah tangga, serta bedah karya penulis asal Brebes yang ditulis para guru yang aktif menulis. Festival kemudian ditutup pada Minggu, 18 Oktober, dengan lomba mewarnai tingkat TK dan kegiatan mendongeng.
Nurjanto berharap festival ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, melainkan benar-benar memperluas gerakan literasi di tengah masyarakat. Melalui buku murah, panggung seni, dan beragam pelatihan, festival diharapkan membuat warga semakin dekat dengan buku dan gemar membaca. Sumber: Beritakota.id dan TintaHijau.