Suarapantura.com - Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma) Karya Bersama Bumiayu, Kabupaten Brebes, memulai babak baru setelah bertahun-tahun dilanda persoalan internal. Kepengurusan baru dibentuk melalui Musyawarah Antar Desa (MAD) yang digelar Badan Kerja Sama Antar Desa (BKAD) di Aula Kecamatan Bumiayu, Rabu, 4 November 2026.
Dalam musyawarah tersebut, Faris Abdilah terpilih secara aklamasi sebagai ketua BUMDesma Karya Bersama. Sementara itu, Samsul Maarif dipercaya menduduki posisi Ketua Dewan Penasehat. Pemilihan ini diharapkan menjadi titik awal pemulihan badan usaha yang dibentuk bersama oleh desa-desa di wilayah Bumiayu tersebut.
Krisis kepemimpinan di BUMDesma Karya Bersama bermula dari penolakan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) tahun anggaran 2025 oleh peserta musyawarah. Penolakan itu kemudian berujung pada pengunduran diri ketua yang menjabat saat itu, sehingga kursi kepemimpinan sempat kosong.
Menindaklanjuti penolakan LPJ tersebut, Inspektorat Kabupaten Brebes melakukan audit. Hasil audit itu berimplikasi pada diterbitkannya Surat Peringatan (SP) kepada ketua BUMDesma saat itu. Rangkaian peristiwa inilah yang membuat BKAD bergerak mengisi kekosongan agar roda organisasi tidak berhenti.
Jalannya pemilihan ketua diwarnai dinamika. Semula terdapat lima bakal calon ketua, namun tiga di antaranya tidak hadir dalam forum MAD. Dengan demikian, hanya dua kandidat yang mengikuti proses hingga selesai. Pada sesi presentasi, Samsul Maarif dilaporkan menyatakan tidak bersedia maju sebagai ketua, meski pernyataan itu tidak disampaikan secara tegas.
Kondisi tersebut kemudian mengerucut pada terpilihnya Faris Abdilah secara aklamasi. Keputusan itu diambil peserta musyawarah sebagai jalan untuk segera menghadirkan kepengurusan yang definitif dan dapat bekerja memulihkan usaha bersama.
Ketua Paguyuban Kepala Desa se-Kecamatan Bumiayu, Mustholih, menilai pergantian pengurus sudah waktunya dilakukan. Mustholih yang juga menjabat Kepala Desa Langkap itu berharap kepengurusan baru memiliki prinsip yang jelas dan berintegritas, serta berkomitmen membantu perekonomian masyarakat Bumiayu.
“Pergantian ini untuk menyelamatkan dan menyehatkan BUMDesma,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari laporan media lokal.
Harapan serupa disampaikan Ketua BKAD Bumiayu, Dedi Susilo. Ia menilai pembentukan pengurus baru merupakan langkah untuk memperbaiki kinerja BUMDesma. Dengan kinerja yang membaik, desa-desa diharapkan kembali percaya untuk menyuntikkan modal, sekaligus membantu penarikan dana bergulir dari nasabah yang selama ini macet.
Ke depan, pengurus baru menghadapi pekerjaan yang tidak ringan. Selain menata kembali tata kelola dan laporan keuangan, mereka juga perlu membangun kembali kepercayaan desa-desa anggota. Kepercayaan itu menjadi modal penting agar BUMDesma Karya Bersama benar-benar berfungsi sebagai penggerak ekonomi desa, bukan sekadar struktur organisasi.
Bagi warga Bumiayu dan sekitarnya, pemulihan BUMDesma bukan sekadar urusan internal organisasi. Badan usaha bersama ini diharapkan mampu membuka peluang usaha, memperkuat perputaran ekonomi lokal, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat desa anggotanya.
Sumber: EmsatuNews dan Portal Pantura.