Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Pengrajin Ban Bekas di Pantura Slawi Mengeluhkan Limbahnya Tak Bisa Dijual Lagi Sejak Pembakaran Gamping Tutup

Yanvera osmana•
Seputar Bregas

SuaraPantura.com - Pemanfaatan kerajinan ban bekas, menjadi kerajinan tangan bernilai tinggi, perlu secepatnya didukung oleh Pemkab Tegal.

Karena potensi pasar kerajinan tangan itu sendiri, sangat besar sekali dan bahan bakunya pun mudah didapat.

Selain itu, dampak baiknya jelas berlipat ganda, mulai dari bisa meningkatkan perekonomian warga, lantaran dapat mendorong bergeraknya ekonomi kreatif warga juga membantu pemerintah itu sendiri dalam memerangi polusi.

Dari hasil proses pengolahan kerajinan tersebut menghasilkan limbah yang harus segera diberikan penanganan maupun pemanfaatannya.

Tebing Sungai Pedes Ambrol, Warga Kutamendala Brebes Usulkan Penahan Tebing
Baca Juga · Seputar Bregas
Tebing Sungai Pedes Ambrol, Warga Kutamendala Brebes Usulkan Penahan Tebing

Karena selama ini, limbah kerajinan ban bekas biasanya dibeli dengan harga 500 rupiah perkilo. untuk bahan pembakaran gamping/batu kapur.

Dilihat dari sudut pandang manapun, Pemanfaatan limbah ukiran ban bekas bagus sekali. Tinggal pemerintah memberikan solusi baik program pemodalan, membuka peluang pasar serta pendampingan.

Artinya pemerintah daerah maupun desa juga wajib membeli untuk keperluan instansinya, seperti contoh tong sampah, jam dinding dari ban bekas, pot bunga, vas bunga maupun lainya. Dan limbah ukiran ban Bekasi ini bisa dijadikan tali penghias pagar ataupun lainya. 

Transaksi Nontunai Brebes Diproyeksikan Capai 82 Persen, QRIS Hadir di 17 Pasar Daerah
Baca Juga · Seputar Bregas
Transaksi Nontunai Brebes Diproyeksikan Capai 82 Persen, QRIS Hadir di 17 Pasar Daerah

"Apa pun alasanya, pemerintah daerah wajib memberikan dukungan penuh. Dan wajib membuat aturan, agar instansi-instansi wajib membeli produk-produk buatan warga. Misalkan setiap dinas, badan, kantor kecamatan, kantor desa-desa. Tong sampahnya dari kerajinan ban bekas, jam dinding pun juga sama dari limbah ban bekas serta lainya. Dan saya meminta, pemerintah jangan hanya meninjau saja, sambil bilang bagus-bagus, tapi tak ada kebijakan pendukung keberlangsung dari usaha hasil karya warga tersebut." Ujar Ridho R. Salah seorang pemerhati UMKM yang juga Presedium KAHMI Kab. Tegal.

Ridho meminta, agar setiap program yang digulirkan pemerintah berbasis kondisi dan kebutuhan lapangan.

Artinya satu program tapi bisa memberikan solusi baik terhadap beberapa permasalah yang ada. Agar rangkaian rantai masalah-masalah dilapangan, bisa terurai berkesinbungan satu sama lainya dan pokus utamanya, tentu bermanfaat besar dari segi perekonomian warga.

Bupati Tegal Ajak Ulama Perangi Stigma TBC dan HIV/AIDS di Slawi
Baca Juga · Seputar Bregas
Bupati Tegal Ajak Ulama Perangi Stigma TBC dan HIV/AIDS di Slawi

" Tiap hari vulkanisir atau ukiran ban bekas produksi. Tentu limbahnya terproduksi. Kalau dibirakan jelas akan menumpuk menjadi sampah karet bekas. Jelas sangat rugi kalau tidak dimanfaatkan menjadi barang bernilai jual tinggi " jelas Ridho .

Ridho mendesak pemerintah daerah dan wakil rakyatnya secepetnya bertindak. Agar perekonomian warga segera pulih.

" Jangan melihat golongan ataupun warna partainya. Tapi kalian diberikan amanah untuk semuanya". Tambahnya.

Disisi lain, Juned (45) salah seorang pengrajin ban asal Dukuhwaru mengatakan, untuk limbah ukiran ban bekas. Belum ada yang memanfaatkan, malah tiap hari menumpuk. Dan kalau ada yang mau memanfaatkan guna dijadikan kerajinan tangan. Dirinya sangat mendukung sekali.

" Dulu sih ada yang membeli dengan harga 500 rupiah perkilo. Tapi sekarang belum datang lagi. Kalaupun ada yang bisa bikin kerajinan tangan dari bahan limbah ini, ya monggo. Karena bagus sekali". Tandasnya singkat.***

Tags:
#ban#pantura#slawi#pengrajin#bekas#gamping
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…