Suarapantura.com - Kasus dugaan penggelapan dana yang menyeret Koperasi Swadarma di lingkungan Bank Negara Indonesia Cabang Pematangsiantar dinilai berpotensi menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap industri perbankan.
Kemiripan identitas koperasi dengan bank induknya disebut dapat memicu persepsi negatif di tengah masyarakat.
Pengamat Ekonomi Universitas Simalungun (USI), Darwin Damanik, mengingatkan adanya risiko reputasi serius bagi BNI apabila persoalan tersebut tidak segera ditangani secara transparan.
Menurutnya, masyarakat awam kerap mengaitkan koperasi dengan institusi bank karena penggunaan nama yang serupa.
“Secara psikologis, masyarakat sering kali mengasosiasikan koperasi tersebut dengan identitas bank induknya (BNI) karena penggunaan nama yang serupa. Jika nasabah tidak mendapatkan edukasi yang jelas mengenai pemisahan ini, bisa muncul persepsi bahwa sistem pengawasan di lingkungan bank BNI lemah,” ujar Darwin kepada kepada wartawan, belum lama ini.
Darwin menjelaskan, kondisi tersebut berpotensi memicu kekhawatiran nasabah hingga menimbulkan penarikan dana secara besar-besaran atau rush. Situasi itu biasanya dipengaruhi asymmetric information atau ketimpangan informasi yang membuat masyarakat memilih langkah paling aman untuk melindungi aset mereka.
“Nasabah cenderung bermain aman dengan memindahkan aset mereka ke tempat yang dianggap lebih stabil saat mendengar kabar miring terkait Bank BNI,” tuturnya.
Meski demikian, Darwin menegaskan secara teknis operasional Bank Negara Indonesia tidak terganggu oleh kasus yang menimpa koperasi tersebut. Ia menyebut modal inti dan likuiditas bank tidak memiliki kaitan langsung dengan kerugian yang dialami koperasi.
Namun demikian, kepercayaan publik tetap menjadi faktor paling krusial dalam industri perbankan sehingga diperlukan langkah cepat, edukasi publik, dan transparansi manajemen untuk memulihkan citra perusahaan.