Suarapantura.com - Pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk didesak segera mengevaluasi posisi Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini.
Desakan itu muncul setelah kinerja keuangan perusahaan telekomunikasi pelat merah tersebut disebut mengalami penurunan sepanjang 2025.
Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai manajemen Telkom di bawah kepemimpinan Dian Siswarini gagal menjaga stabilitas finansial perusahaan sejak ditunjuk melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 27 Mei 2025.
“Ada penurunan pendapatan sebesar Rp2,6 triliun hanya dalam waktu satu tahun. Ini sinyal merah bagi kesehatan perusahaan,” ujar Uchok Sky Khadafi dalam keterangan tertulisnya, Kamis (21/5/2026).
Berdasarkan data yang dihimpun CBA, pendapatan Telkom pada 2025 tercatat sebesar Rp109,6 triliun atau turun dibanding capaian tahun 2024 sebesar Rp112,2 triliun. Penurunan pendapatan tersebut juga diikuti melemahnya laba bersih perusahaan.
Pada 2024, laba bersih Telkom disebut mencapai Rp23 triliun. Namun pada 2025, angka itu turun menjadi Rp20,9 triliun atau berkurang sekitar Rp2,1 triliun. Menurut Uchok, kondisi tersebut menunjukkan tekanan serius terhadap fundamental perusahaan.
Selain pendapatan dan laba, CBA juga menyoroti penyusutan kas dan deposito perusahaan. Kas bank Telkom disebut turun dari Rp23,3 triliun pada 2024 menjadi Rp22,6 triliun pada 2025 atau berkurang sekitar Rp721 miliar.
Sementara itu, nilai deposito bank perusahaan juga disebut mengalami penurunan tajam dari Rp33,9 triliun menjadi Rp31,5 triliun sepanjang 2025. CBA menilai kondisi itu sebagai sinyal melemahnya ketahanan keuangan perusahaan.
Melihat kondisi tersebut, Uchok meminta pemerintah segera menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa guna mengevaluasi dan mengganti jajaran direksi, khususnya Direktur Utama Telkom.
“Penurunan kinerja ini memperlihatkan bahwa Dian Siswarini tidak memiliki kompetensi yang cukup dalam mendulang pendapatan di tengah tantangan pasar. Jika tetap dipertahankan, kinerja keuangan dikhawatirkan akan terus merosot hingga ke titik kerugian,” tegasnya.
Ia menilai penurunan pendapatan, laba, hingga cadangan deposito perusahaan menjadi bukti lemahnya pengelolaan aset negara di tubuh Telkom. Karena itu, pemerintah diminta segera mengambil langkah penyelamatan terhadap perusahaan telekomunikasi milik negara tersebut.
“Pemerintah jangan tinggal diam melihat tiang fundamen Telkom keropos. Segera cari pengganti yang lebih mumpuni sebelum terlambat,” tandas Uchok.