Suarapantura.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mencetak rekor pelemahan dengan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap ketahanan industri nasional, khususnya sektor yang bergantung pada impor bahan baku dan transaksi mata uang asing.
Pada penutupan perdagangan Kamis (4/6/2026), rupiah berada di level Rp18.049 per dolar AS atau melemah 82 poin dibandingkan hari sebelumnya.
Pelemahan kurs yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir dinilai membawa dampak berbeda bagi setiap sektor usaha. Exportir memang berpotensi memperoleh keuntungan karena pendapatan dalam dolar AS menjadi lebih besar ketika dikonversi ke rupiah.
Namun, Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menilai keuntungan tersebut tidak otomatis dirasakan seluruh eksportir. Banyak perusahaan ekspor di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor, mesin, energi, hingga jasa logistik internasional yang pembayarannya menggunakan dolar AS.
"Keuntungan kurs hanya benar-benar dirasakan eksportir yang menggunakan bahan baku lokal dalam jumlah besar dan memiliki pasar ekspor yang tetap kuat," ujarnya.
Sebaliknya, sektor impor menjadi kelompok yang paling cepat terkena dampak. Kenaikan biaya impor membuat margin usaha menyusut karena pelaku usaha tidak selalu bisa langsung menaikkan harga jual di tengah lemahnya daya beli masyarakat.
Menurut Josua, tekanan nilai tukar yang dibarengi kenaikan biaya energi, logistik, dan gangguan rantai pasok membuat prospek perdagangan nasional menjadi semakin tidak stabil.
Industri Impor Paling Rentan
Sejumlah sektor disebut paling rentan menghadapi pelemahan rupiah, antara lain industri otomotif, kendaraan listrik, elektronik, farmasi, alat kesehatan, tekstil, alas kaki, kimia, plastik, besi baja, hingga industri mesin.
Selain itu, industri makanan dan minuman yang masih bergantung pada gandum, kedelai, gula, susu, serta bahan baku impor lainnya juga menghadapi tekanan yang cukup besar.
Importir migas turut merasakan dampak langsung karena kenaikan kurs menyebabkan biaya energi meningkat dan berimbas pada ongkos produksi serta transportasi.
Di sisi lain, sektor komoditas seperti batu bara, minyak sawit mentah (CPO), mineral, timah, dan produk hilirisasi masih memperoleh bantalan dari penerimaan dolar AS hasil ekspor.
Meski demikian, sektor-sektor tersebut tetap menghadapi risiko tambahan berupa fluktuasi harga komoditas global, biaya pelayaran internasional, hingga perubahan tata kelola ekspor.
Berapa Lama Industri Bisa Bertahan?
Josua memperkirakan perusahaan besar yang memiliki pendapatan dolar AS dan kontrak ekspor jangka panjang masih dapat bertahan lebih dari enam hingga 12 bulan.
Namun situasinya berbeda bagi importir murni maupun industri yang sangat bergantung pada bahan baku impor. Kelompok ini diperkirakan hanya memiliki ruang bertahan sekitar tiga hingga enam bulan sebelum harus menaikkan harga produk, mengurangi impor, atau menunda ekspansi usaha.
Sementara itu, pelaku usaha kecil dan menengah diprediksi menghadapi tekanan lebih cepat.
"Untuk UMKM yang tidak memiliki akses pembiayaan murah maupun fasilitas lindung nilai, tekanan bisa dirasakan dalam satu hingga tiga bulan jika rupiah tetap lemah," kata Josua.
Pemerintah Diminta Bergerak
Ekonom menilai pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan intervensi pasar dari Bank Indonesia. Langkah yang lebih penting adalah menjaga disiplin fiskal, memperkuat pasokan devisa, menekan biaya logistik, serta menciptakan kepastian kebijakan bagi dunia usaha.
Kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dinilai dapat membantu memperkuat cadangan devisa nasional. Namun pelaksanaannya perlu tetap memperhatikan kebutuhan operasional eksportir yang membutuhkan valuta asing untuk membeli bahan baku, membayar utang, maupun investasi.
Sementara itu, Chief Economist Bank Tabungan Negara, Myrdal Gunarto, menilai pemerintah juga perlu memberikan perhatian kepada sektor impor melalui insentif tertentu, termasuk kemungkinan pemberian keringanan bea masuk guna menekan biaya produksi.
Menurutnya, langkah tersebut dapat membantu pelaku usaha menghadapi tekanan akibat pelemahan rupiah yang terjadi dalam waktu relatif singkat.
Di tengah kondisi saat ini, para ekonom menilai kebijakan yang mampu mempercepat masuknya devisa ke dalam negeri serta menjaga kelancaran ekspor menjadi faktor penting agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam dan aktivitas industri nasional tetap terjaga.