Suarapantura.com - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan hebat pada awal pekan. Mata uang Garuda bahkan menyentuh level terlemah sepanjang sejarah setelah diperdagangkan di kisaran Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (8/6/2026).
Pelemahan tersebut langsung berdampak pada kurs jual dolar AS di sejumlah bank nasional. Beberapa perbankan besar menaikkan harga jual dolar hingga menembus level Rp18.400 per dolar AS.
Berdasarkan data perdagangan pagi hari, rupiah tercatat melemah sekitar 0,50 persen terhadap dolar AS. Kondisi ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya rupiah sempat menguat tipis, namun kembali tertekan akibat sentimen global yang masih membayangi pasar keuangan.
Salah satu kurs tertinggi tercatat di HSBC Indonesia. Melalui layanan bank notes, dolar AS dijual pada level Rp18.415 per dolar, menjadi salah satu harga tertinggi yang ditawarkan perbankan pada hari tersebut.
Sementara itu, sejumlah bank besar lainnya juga mematok kurs jual dolar di atas Rp18.100 per dolar AS.
Di Bank Central Asia (BCA), kurs e-rate dolar AS berada di level Rp18.175 per dolar. Bank Mandiri menetapkan kurs jual special rate sebesar Rp18.140 per dolar, sedangkan Bank Negara Indonesia (BNI) mematok kurs jual special rate Rp18.165 per dolar.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga menjual dolar melalui layanan e-rate di level Rp18.185 per dolar. Adapun Bank UOB Indonesia menetapkan kurs jual hingga Rp18.258 per dolar AS.
Pelemahan rupiah yang terus berlanjut memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha, terutama sektor yang bergantung pada bahan baku impor dan transaksi menggunakan mata uang asing.
Jika tren pelemahan berlanjut, biaya impor diperkirakan akan semakin meningkat dan berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah barang di dalam negeri.
Di sisi lain, eksportir yang menerima pembayaran dalam dolar AS berpotensi memperoleh keuntungan dari selisih kurs. Namun manfaat tersebut tidak selalu maksimal karena sebagian besar pelaku ekspor juga masih bergantung pada bahan baku dan komponen impor.
Hingga saat ini, pelaku pasar masih menunggu langkah lanjutan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus menghadapi tekanan dari berbagai faktor global.