Suarapantura.com - Tekanan di pasar keuangan domestik semakin terasa. Saham-saham bank besar atau kelompok KBMI IV kompak mengalami penurunan tajam pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (8/6/2026).
Koreksi saham perbankan tersebut ikut menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 245 poin atau 4,36 persen ke level 5.347.
Salah satu yang mengalami tekanan terbesar adalah saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang turun Rp175 atau 3,45 persen menjadi Rp4.900 per saham. Level tersebut menjadi titik terendah baru yang dicapai saham emiten perbankan terbesar di Indonesia itu dalam beberapa waktu terakhir.
Tekanan serupa juga melanda saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang melemah 4,01 persen ke level Rp2.630 per saham.
Tak hanya itu, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga terkoreksi Rp90 atau 2,34 persen menjadi Rp3.750. Sementara PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun Rp130 atau 4,05 persen ke posisi Rp3.080 per saham.
Rupiah Makin Terpuruk
Pelemahan saham sektor perbankan terjadi bersamaan dengan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Pada perdagangan pagi, rupiah tercatat melemah Rp101 hingga menyentuh level Rp18.121 per dolar AS. Sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd), nilai tukar rupiah disebut telah terkoreksi lebih dari 10 persen.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi domestik dan prospek kinerja sektor keuangan ke depan.
IHSG Dibuka Langsung Merah
Sejak pembukaan perdagangan, tekanan jual sudah terlihat kuat di pasar saham. IHSG bahkan langsung dibuka turun 214 poin atau 3,75 persen ke level 5.390 sebelum akhirnya melanjutkan pelemahan.
Penurunan indeks kali ini bahkan lebih dalam dibandingkan sebagian besar bursa saham utama di kawasan Asia.
Selain sektor perbankan, sejumlah sektor lain juga ikut mengalami tekanan, mulai dari sektor material dasar, industri, energi, konsumer primer, infrastruktur, transportasi hingga keuangan.
Beberapa saham berkapitalisasi besar (big cap) yang turut menyeret IHSG antara lain AMMN, TLKM, AADI, RAJA, BREN, MDKA, PTRO, BBCA hingga DSSA.
Investor Waspadai Tekanan Berlanjut
Analis menilai pelemahan rupiah, ketidakpastian ekonomi global, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap arus modal keluar masih menjadi faktor utama yang membebani pasar keuangan Indonesia.
Jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut, sektor perbankan berpotensi menghadapi tantangan lebih besar, terutama terkait biaya dana, kualitas kredit, serta perlambatan aktivitas ekonomi.
Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah gejolak yang terus meningkat.