Wastra Baduy Jadi Souvenir Nasabah Kaya BCA, Pemberdayaan atau Strategi Branding?
Sabila JP•
Ekbis
ilustrasi gedung BCA. Foto: Ist
Suarapantura.com- Tenun Baduy dibawa ke panggung eksklusif. BCA memproduksi 1.800 tas dari 205 kain tenun Baduy dengan pewarna alami dan menjadikannya salah satu suvenir bagi nasabah yang menghadiri BCA Wealth Summit 2026.
Di atas kertas, program ini terlihat mulia: memberdayakan penenun, melibatkan penyandang disabilitas, sekaligus mengangkat wastra tradisional dan konsep ramah lingkungan.
Namun, ada sisi lain yang patut dipertanyakan. Ketika tenun Baduy dijadikan suvenir dalam ajang yang menyasar nasabah dengan kekayaan besar, sebenarnya siapa yang paling diuntungkan?
Apakah ini murni pemberdayaan masyarakat adat dan perajin, atau sekaligus strategi BCA membangun citra hijau dan sosial di hadapan segmen nasabah kaya?
BCA sendiri menyebut BCA Wealth Summit merupakan forum edukasi finansial tahunan. Program 2026 juga menyasar nasabah undangan, sementara materi promosi Wealth Summit menunjukkan adanya berbagai penawaran eksklusif untuk transaksi investasi bernilai besar.
Tenun Baduy Masuk Ruang Nasabah Berduit
BCA menyebut 1.800 tas tersebut dibuat dari 205 kain tenun Baduy menggunakan pewarna alami. Produksinya menggandeng kelompok disabilitas.
Kain tersebut dibuat secara manual menggunakan alat tenun tradisional gedogan. BCA kemudian membawa produk itu ke Jakarta dan membagikannya sebagai suvenir kepada peserta Wealth Summit yang hadir secara langsung pada 16–17 September 2026.
Langkah ini tentu dapat membuka pasar baru bagi produk tradisional.
Tetapi pertanyaannya bukan berhenti pada berapa banyak tas yang dibuat.
Berapa nilai ekonomi yang benar-benar kembali ke penenun Baduy? Berapa bagian yang diterima perajin dari rantai produksi tersebut? Dan apakah akses pasar yang dibuka BCA akan menghasilkan pembelian berkelanjutan, atau berhenti setelah suvenir dibagikan?
Pertanyaan itu penting karena istilah pemberdayaan sering terdengar jauh lebih indah dibanding dampak ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat di tingkat bawah.
BCA Klaim Pendapatan Penenun Naik Rp367 Juta
BCA menyatakan sepanjang 2025 tambahan penghasilan penenun binaan mencapai lebih dari Rp367 juta atau tumbuh 34 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, angka agregat juga menyisakan pertanyaan: Rp367 juta itu dibagi kepada berapa penenun, berapa komunitas, dan berapa sebenarnya tambahan pendapatan yang masuk ke kantong masing-masing perajin?
Dalam laporan tahunannya, BCA mencatat program pembinaan wastra warna alam melibatkan 32 peserta dan menghasilkan tambahan pendapatan penenun lebih dari Rp367 juta pada 2025.
Artinya, publik berhak mengetahui ukuran keberhasilan program bukan hanya dari angka pertumbuhan 34 persen, tetapi juga dari perubahan kesejahteraan perajin secara nyata.
Apakah mereka menjadi lebih mandiri?
Apakah harga jual kain meningkat?
Apakah mereka memiliki akses pasar tanpa harus bergantung kepada program korporasi?
Dan yang tidak kalah penting, apakah peningkatan pendapatan itu bisa bertahan ketika program promosi BCA berakhir?
Jangan Sampai Budaya Hanya Jadi Etalase Korporasi
BCA menyebut program Bakti Budaya bertujuan mendukung pelestarian seni, tradisi dan kearifan lokal sekaligus memberdayakan komunitas lokal.
Program itu memang telah diperluas ke sejumlah daerah, termasuk Baduy, Timor Tengah Selatan, Sumba dan Sumatra Utara. Laporan keberlanjutan BCA juga menyebut perluasan akses pasar sebagai bagian dari program tersebut.
Namun, ketika produk budaya masuk ke ruang korporasi dan digunakan sebagai bagian dari acara eksklusif, muncul pertanyaan yang layak diajukan:
Apakah masyarakat adat hanya menjadi sumber cerita untuk memperkuat citra perusahaan?
Tenun Baduy memiliki nilai budaya yang jauh lebih besar daripada sekadar barang suvenir. Karena itu, keberhasilan program seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah tas yang diproduksi atau berapa banyak acara yang menampilkan produk tersebut.
Ukuran sebenarnya adalah apakah posisi tawar perajin meningkat.
Apakah mereka mendapatkan harga yang adil.
Apakah pasar mereka semakin luas.
Dan apakah manfaat ekonomi jangka panjang benar-benar tinggal di komunitas asalnya.
Di Satu Sisi Nasabah Kaya, di Sisi Lain Perajin
Ada ironi yang sulit diabaikan.
Tenun tradisional yang lahir dari keterampilan masyarakat daerah dibawa ke sebuah forum yang menyasar segmen nasabah dengan kemampuan finansial tinggi.
Di satu sisi ada perajin yang menggantungkan penghasilan dari produksi kain dan produk turunannya.
Di sisi lain ada industri perbankan yang sedang membangun hubungan dengan pemilik dana dan investor bernilai besar.
BCA sendiri dalam program Wealth Summit 2026 menawarkan sejumlah fasilitas dan promosi untuk transaksi investasi dengan nilai minimum ratusan juta rupiah. Salah satu program mensyaratkan transaksi reksa dana mulai Rp500 juta untuk memperoleh berbagai manfaat dan hadiah.
Maka wajar jika publik mempertanyakan apakah tenun Baduy dalam acara tersebut sekadar menjadi bagian dari pemberdayaan ekonomi, atau sekaligus menjadi alat komunikasi korporasi untuk memperkuat citra BCA di hadapan kelompok nasabah premium.
Keduanya memang bisa berjalan bersamaan.
Tetapi transparansi mengenai manfaat ekonominya tetap diperlukan.
Program sosial perusahaan tentu tidak salah. Bahkan, akses pasar bagi produk tradisional dapat memberikan manfaat nyata.
Masalahnya muncul ketika keberhasilan program hanya dipresentasikan melalui angka pertumbuhan, jumlah produk, dan kemeriahan acara.
Publik perlu melihat angka yang lebih konkret.
Berapa rupiah yang diterima penenun dari 205 kain tersebut?
Berapa nilai kontrak atau pembelian produk yang masuk ke komunitas?
Berapa tambahan pendapatan perajin secara rata-rata?
Berapa persen nilai akhir produk yang kembali kepada pembuat kain?
Dan yang paling penting:
Setelah BCA Wealth Summit selesai, apakah pasar tenun Baduy tetap hidup atau para perajin kembali menunggu program berikutnya?
BCA menyatakan program Bakti BCA merupakan bagian dari upaya menciptakan dampak positif dan pembangunan berkelanjutan.
Karena itu, ukuran keberhasilannya seharusnya bukan sekadar 1.800 tas berhasil dibuat dan dibagikan kepada nasabah.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah setelah acara selesai, 1.800 tas itu benar-benar membuka jalan bagi ribuan transaksi baru, harga kain yang lebih baik, serta kehidupan yang lebih sejahtera bagi para penenun.
Kalau tidak, jangan sampai wastra Baduy hanya menjadi hiasan hijau di panggung perbankan—cantik untuk citra, tetapi manfaat ekonominya belum tentu sebesar narasinya.