BCA Digital Gencar Buka Akses Keuangan, Tapi Jangan Sampai Nasabah Cuma Jadi Pengguna Produk
Sabila JP•
Ekbis
Foto: BCA (REUTERS/Willy Kurniawan)
Suarapantura.com - BCA Digital mengklaim ingin membuat masyarakat makin cerdas mengelola uang. Namun di tengah agresifnya ekspansi layanan blu, muncul pertanyaan yang tak kalah penting: apakah masyarakat benar-benar makin melek finansial, atau justru semakin mudah masuk ke berbagai produk keuangan tanpa memahami risikonya?
Kemudahan membuka rekening, menabung, bertransaksi hingga mengakses berbagai layanan finansial lewat aplikasi memang menjadi wajah baru perbankan.
Tetapi kemudahan juga memiliki sisi lain.
Semakin mudah seseorang memperoleh akses terhadap produk keuangan, semakin besar pula risiko keputusan finansial yang diambil tanpa pemahaman memadai.
Bahkan BCA Digital sendiri mengakui persoalan tersebut.
Head of Brand & Communication BCA Digital Duardi Prihandiko menyatakan inklusi keuangan tanpa literasi dapat menimbulkan masalah finansial di kemudian hari.
Pernyataan tersebut seharusnya tidak hanya menjadi slogan pada momentum Bulan Inklusi Keuangan 2026.
Sebab ekosistem blu kini tidak lagi sekadar rekening digital.
Semakin Banyak Fitur, Semakin Besar Pula Risikonya
BCA Digital terus memperluas ekosistem blu. Layanan yang ditawarkan mencakup simpanan, investasi, asuransi hingga pinjaman melalui berbagai fitur digital.
Di satu sisi, pilihan tersebut memberikan kemudahan.
Di sisi lain, nasabah kini berhadapan dengan semakin banyak keputusan keuangan.
Menabung berbeda dengan berinvestasi.
Investasi berbeda dengan asuransi.
Dan pinjaman jelas membawa konsekuensi berbeda dibandingkan menyimpan uang.
Masalahnya, apakah seluruh pengguna memahami perbedaan risiko tersebut sebelum menekan tombol transaksi?
Jangan sampai masyarakat merasa sudah "melek finansial" hanya karena mampu menggunakan aplikasi perbankan.
Bisa membuka rekening bukan berarti memahami pengelolaan uang.
Bisa membeli investasi bukan berarti memahami risikonya.
Dan bisa mendapatkan pinjaman bukan berarti mampu mengelola utang.
30.926 Peserta Bukan Berarti Masalah Literasi Selesai
BCA Digital menyebut bluAcademy telah diikuti 30.926 peserta melalui 25 batch sejak Oktober 2023 hingga Agustus 2026. Materinya mencakup budgeting, investasi untuk pemula hingga manajemen risiko finansial.
Angka tersebut tentu menunjukkan adanya minat terhadap edukasi keuangan.
Tetapi jumlah peserta tidak otomatis menunjukkan bahwa tingkat literasi masyarakat sudah meningkat secara signifikan.
Pertanyaan berikutnya justru lebih penting:
Berapa banyak peserta yang benar-benar mengubah perilaku keuangannya?
Berapa yang mulai memiliki dana darurat?
Berapa yang mampu membedakan kebutuhan dan keinginan?
Berapa yang memahami risiko investasi?
Berapa yang tidak lagi mengambil utang konsumtif di luar kemampuan?
Dan berapa yang memahami konsekuensi ketika menggunakan produk finansial digital?
Tanpa indikator tersebut, edukasi berpotensi berhenti pada kegiatan, webinar, materi dan jumlah peserta.
Padahal ukuran keberhasilannya seharusnya adalah perubahan perilaku finansial masyarakat.
Jangan Sampai Kemudahan Justru Membuat Orang Makin Konsumtif
Ini bagian yang patut mendapat perhatian.
BCA Digital mengembangkan blu bukan hanya sebagai platform perbankan, tetapi sebagai ekosistem finansial dan lifestyle enabler. Sejumlah layanan dan integrasi digital bahkan mencatat pertumbuhan transaksi yang tinggi.
Semakin mudah pembayaran dan transaksi dilakukan, semakin kecil pula hambatan seseorang untuk mengeluarkan uang.
Di sinilah edukasi menjadi penting.
Jangan sampai teknologi membuat masyarakat semakin mudah bertransaksi, tetapi semakin sulit menahan diri untuk berbelanja.
Perbankan digital seharusnya membantu masyarakat membangun kondisi finansial yang lebih sehat, bukan sekadar meningkatkan frekuensi transaksi.
Karena itu, BCA Digital perlu membuktikan bahwa pertumbuhan transaksi dan penggunaan fitur benar-benar berjalan seiring dengan peningkatan kesehatan finansial nasabah.
Pinjaman Digital Juga Membutuhkan Literasi
Aspek yang tidak kalah penting adalah pinjaman.
BCA Digital memiliki bluExtraCash sebagai salah satu solusi likuiditas dalam ekosistem blu. BCA Digital menyebut layanan tersebut sebagai solusi likuiditas yang cepat, transparan dan bertanggung jawab.
Tetapi bagi masyarakat awam, kata "cepat" justru harus diimbangi edukasi yang jauh lebih kuat.
Semakin cepat seseorang memperoleh akses pinjaman, semakin cepat pula kewajiban pembayaran muncul.
Karena itu, edukasi seharusnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana menggunakan produk.
Masyarakat juga harus memahami:
berapa total biaya yang harus dibayar;
kemampuan membayar cicilan;
konsekuensi keterlambatan;
dampak utang terhadap kondisi keuangan;
dan kapan pinjaman justru menjadi beban.
Sebab literasi keuangan bukan kemampuan menggunakan produk bank.
Literasi keuangan adalah kemampuan mengatakan "tidak" ketika sebuah produk sebenarnya tidak dibutuhkan.
BCA Digital Perlu Mengukur Dampaknya
BCA Digital patut diapresiasi karena menyadari bahwa inklusi tanpa literasi dapat menjadi masalah.
Namun pernyataan itu sekaligus menjadi tantangan bagi BCA Digital sendiri.
Jika masyarakat semakin mudah masuk ke ekosistem keuangan digital, maka bank juga harus memastikan mereka tidak sekadar menjadi pengguna produk.
Jumlah rekening, transaksi, pengguna aplikasi dan peserta edukasi memang mudah dihitung.
Yang lebih sulit adalah mengukur apakah masyarakat benar-benar menjadi lebih sehat secara finansial.
Apakah tabungan mereka meningkat?
Apakah utang konsumtif menurun?
Apakah keputusan investasi menjadi lebih rasional?
Apakah mereka memahami risiko produk sebelum membeli?
Itulah ukuran yang jauh lebih penting.
Jangan Hanya Membuat Nasabah Pintar Memakai Aplikasi
Pada akhirnya, digitalisasi perbankan memang tidak bisa dihentikan.
Masyarakat membutuhkan layanan yang cepat, praktis dan dapat diakses dari mana saja.
Tetapi bank tidak boleh berhenti pada membuat masyarakat pintar menggunakan aplikasi.
Yang jauh lebih penting adalah membuat masyarakat pintar menggunakan uangnya.
BCA Digital sendiri telah mengakui bahwa inklusi tanpa literasi dapat menimbulkan masalah finansial.
Karena itu, tantangannya sekarang bukan lagi sekadar berapa banyak orang yang berhasil dijangkau blu.
Pertanyaannya jauh lebih tajam:
Setelah masyarakat masuk ke ekosistem blu, apakah mereka benar-benar menjadi lebih sejahtera dan lebih cerdas mengelola uang—atau justru semakin mudah menabung, berinvestasi, bertransaksi dan berutang tanpa benar-benar memahami risikonya?
Sebab rekening digital boleh semakin mudah dibuka.
Tetapi jangan sampai pintu menuju berbagai produk keuangan terbuka lebar sementara pemahaman nasabah masih tertinggal di belakang.