Anak Usaha Mandiri Sumbang Laba Rp3,07 Triliun, Sejumlah Bisnis BNI Justru Tertekan
Sabila JP•
Ekbis
Gedung Bank Mandiri. Foto: Ist
Kontribusi perusahaan anak terhadap kinerja keuangan memperlihatkan perbedaan pada dua bank pelat merah, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI).
Hingga September 2026, anak usaha Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp3,07 triliun. Sebaliknya, sejumlah indikator perusahaan anak BNI justru mengalami tekanan, mulai dari penurunan pendapatan komisi hingga penyusutan aset.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan anak perusahaan tidak selalu memberikan kontribusi yang sama terhadap kinerja konsolidasian induk usaha.
Anak Usaha Mandiri Sumbang Laba Rp3,07 Triliun
Bank Mandiri mencatat laba bersih konsolidasian sebesar Rp45,53 triliun hingga September 2026. Angka tersebut tumbuh 20,68% secara tahunan atau year-on-year (yoy).
Dari capaian itu, perusahaan-perusahaan anak memberikan tambahan laba bersih sebesar Rp3,07 triliun, meningkat 6,55% yoy. Adapun bagian laba yang diperhitungkan sesuai porsi kepemilikan Bank Mandiri mencapai Rp1,95 triliun atau tumbuh 11,3% yoy.
Bank Mandiri Taspen atau Bank Mantap menjadi penyumbang terbesar di antara perusahaan anak. Hingga September 2026, Bank Mantap membukukan laba bersih Rp1,18 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp607 miliar menjadi bagian Bank Mandiri berdasarkan kepemilikannya.
Kontribusi tersebut memperlihatkan peran perusahaan anak dalam memperluas sumber pendapatan dan memperkuat bisnis kelompok usaha Mandiri.
Livin' by Mandiri Jadi Penghubung Ekosistem Anak Usaha
Bank Mandiri juga berupaya memperkuat integrasi bisnis melalui aplikasi Livin' by Mandiri. Strategi ini diarahkan untuk menghubungkan layanan berbagai perusahaan anak dalam satu ekosistem digital.
Direktur Teknologi Informasi Bank Mandiri Sunarto Xie menjelaskan keterlibatan perusahaan-perusahaan anak dalam pengembangan ekosistem tersebut.
“Kita masuk ke dalam anak-anak perusahaan kita di Bank Mandiri Group,” ujar Sunarto Xie.
Hingga September 2026, nilai transaksi melalui aplikasi Livin' by Mandiri mencapai Rp3.863 triliun atau meningkat 20% yoy.
Integrasi digital tersebut menjadi salah satu strategi untuk memperluas akses layanan sekaligus mendorong aktivitas bisnis di lingkungan grup Bank Mandiri.
Sejumlah Indikator Anak Usaha BNI Mengalami Tekanan
Kondisi berbeda terlihat pada kelompok usaha BNI. Hingga September 2026, BNI membukukan laba bersih konsolidasian Rp16,11 triliun atau tumbuh 6,62% yoy.
Namun, laba bersih BNI secara bank only tercatat Rp16,36 triliun, meningkat 7,87% yoy. Selisih tersebut mengindikasikan bahwa hasil konsolidasian belum mampu menyamai pencapaian laba bank induk.
Tekanan juga terlihat pada pendapatan berbasis komisi atau fee based income dari perusahaan anak BNI. Pendapatan komisi anak usaha tercatat turun 6,2% yoy menjadi Rp311 miliar.
Sementara itu, fee based income bank induk dilaporkan tumbuh 8,6% yoy. Akibat perbedaan perkembangan tersebut, pertumbuhan pendapatan komisi secara konsolidasian tercatat sebesar 8,3% yoy.
Aset Anak Usaha BNI Turun, hibank Tertekan
Tekanan lainnya terlihat dari perkembangan aset perusahaan anak BNI. Hingga September 2026, total aset seluruh anak usaha tercatat Rp60,86 triliun atau mengalami kontraksi 3,5% yoy.
Penurunan paling dalam terjadi pada hibank, bank digital yang berada dalam kelompok usaha BNI. Aset hibank menyusut 15,3% yoy menjadi Rp19,54 triliun.
Meski mengalami penurunan, hibank tetap memiliki porsi besar dalam struktur aset anak usaha BNI. Kontribusinya mencapai 32,1% dari total aset perusahaan anak.
Perkembangan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi BNI dalam menjaga pertumbuhan bisnis di seluruh lini perusahaan anak, terutama pada sektor perbankan digital.
BNI Andalkan Pertumbuhan Bisnis Inti
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyebut dinamika industri perbankan masih menghadirkan berbagai tantangan. Karena itu, perseroan mengandalkan pertumbuhan bisnis utama untuk menjaga kinerja perusahaan.
Penyaluran kredit dan penghimpunan dana murah pada bisnis bank induk disebut menjadi salah satu penopang pertumbuhan. Keduanya dilaporkan mampu mencatatkan perkembangan positif secara bank only.
“Dengan itu kami senang bisa menyampaikan pertumbuhan laba bersih yang positif,” kata Putrama.
Perbandingan kinerja hingga September 2026 memperlihatkan kontribusi perusahaan anak yang berbeda pada kedua bank. Bank Mandiri memperoleh tambahan laba dari kelompok usahanya, sedangkan sejumlah indikator anak usaha BNI masih menghadapi tekanan.
Meski demikian, BNI tetap mencatatkan pertumbuhan laba konsolidasian. Tantangan berikutnya adalah memperbaiki kontribusi perusahaan anak agar pertumbuhan bisnis di tingkat grup dapat semakin sejalan dengan perkembangan bank induk.